Kisah 3 Jenderal Mongol Dihukum Cambuk oleh Khubilai Khan Gara-gara Gagal Kalahkan Majapahit
Senin, 04 November 2024 - 05:47 WIB
loading...
A
A
A
Ribuan pasukan Mongol ini berlayar dengan kapal perang. Bala tentara Mongol tiba di perairan Jawa awal 1293 dan mendarat di Pelabuhan Tuban.
Selepas dari Tuban, pasukan Mongol bergerak ke pedalaman menuju tepi Sungai Brantas yang merupakan jalur utama menuju Kerajaan Singasari.
Misi utama mereka adalah menundukkan raja Jawa dan membawa Singasari ke dalam kekuasaan Mongol. Namun, situasi politik di Jawa sudah berubah drastis. Raja Kertanegara telah tewas dalam kudeta yang dilakukan oleh Jayakatwang, penguasa Gelang-Gelang.
Kala itu Jayakatwang berhasil menggulingkan Singasari dan mendirikan kekuasaannya di Kediri. Raden Wijaya, menantu Kertanegara melarikan diri dan mendirikan perkampungan baru di wilayah Majapahit.
Dalam kondisi ini, Raden Wijaya melihat peluang untuk memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol. Dengan kecerdikan diplomatisnya, ia berpura-pura tunduk pada Mongol dan meminta bantuan mereka untuk mengalahkan Jayakatwang, penguasa yang membunuh Kertanegara.
Tentara Mongol yang percaya bahwa mereka sedang menyelesaikan misi kekaisaran dengan membantu Raden Wijaya, akhirnya bergabung dengannya. Pada 20 Maret 1293, gabungan pasukan Raden Wijaya dan ribuan tentara Mongol menyerang Jayakatwang.
Dalam pertempuran yang berlangsung di tepian Sungai Brantas, akhirnya pasukan Jayakatwang berhasil dihancurkan. Lebih dari 5.000 prajurit Jayakatwang terbunuh. Sedangkan Jayakatwang akhirnya menyerah setelah terkepung di istananya.
Pertempuran ini tampaknya menjadi awal kemenangan besar bagi Mongol dan mereka yakin telah menyelesaikan misi mereka di Jawa. Akan tetapi, pengkhianatan yang tidak diduga menanti pasukan Mongol. Setelah kemenangan atas Jayakatwang.
Dengan cerdik, Raden Wijaya meminta izin untuk kembali ke Majapahit dengan dalih ingin mempersiapkan upeti bagi Kaisar Mongol Khubilai Khan.
Jenderal pasukan Mongol yang sudah percaya dan hanyut dengan eufioria kemenangan membiarkan Raden Wijaya pergi ke Majapahit dikawal dua perwira dan 200 prajurit.
Tak disangka, ketika tiba di Majapahit Raden Wijaya kemudian mempersiapkan pasukan dan kemudian secara cepat berbalik menyerang pengawal Mongol.
Raden Wijaya dan pasukannya kemudian melancarkan serangan mendadak ke kamp-kamp Mongol di Daha dan Canggu, di mana tentara Mongol tengah berpesta minuman keras (miras) merayakan kemenangan mereka.
Serangan cepat dan mendadak ini membuat pasukan Mongol kocar-kacir. Bala tentara Mongol terpaksa mundur dengan tergesa-gesa menuju kapal-kapal mereka di pantai, dikejar oleh pasukan Raden Wijaya. Saat berusaha mundur ini lebih dari 3.000 tentara Mongol tewas di tangan pasukan Raden Wijaya.
Sedangkan sisa-sisa pasukan Mongol yang selamat, termasuk jenderal mereka, Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing, berhasil melarikan diri ke kapal-kapal mereka dan segera meninggalkan Jawa. Pada 24 April 1293 mereka kembali ke Mongol.
Selepas dari Tuban, pasukan Mongol bergerak ke pedalaman menuju tepi Sungai Brantas yang merupakan jalur utama menuju Kerajaan Singasari.
Misi utama mereka adalah menundukkan raja Jawa dan membawa Singasari ke dalam kekuasaan Mongol. Namun, situasi politik di Jawa sudah berubah drastis. Raja Kertanegara telah tewas dalam kudeta yang dilakukan oleh Jayakatwang, penguasa Gelang-Gelang.
Kala itu Jayakatwang berhasil menggulingkan Singasari dan mendirikan kekuasaannya di Kediri. Raden Wijaya, menantu Kertanegara melarikan diri dan mendirikan perkampungan baru di wilayah Majapahit.
Dalam kondisi ini, Raden Wijaya melihat peluang untuk memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol. Dengan kecerdikan diplomatisnya, ia berpura-pura tunduk pada Mongol dan meminta bantuan mereka untuk mengalahkan Jayakatwang, penguasa yang membunuh Kertanegara.
Tentara Mongol yang percaya bahwa mereka sedang menyelesaikan misi kekaisaran dengan membantu Raden Wijaya, akhirnya bergabung dengannya. Pada 20 Maret 1293, gabungan pasukan Raden Wijaya dan ribuan tentara Mongol menyerang Jayakatwang.
Dalam pertempuran yang berlangsung di tepian Sungai Brantas, akhirnya pasukan Jayakatwang berhasil dihancurkan. Lebih dari 5.000 prajurit Jayakatwang terbunuh. Sedangkan Jayakatwang akhirnya menyerah setelah terkepung di istananya.
Pertempuran ini tampaknya menjadi awal kemenangan besar bagi Mongol dan mereka yakin telah menyelesaikan misi mereka di Jawa. Akan tetapi, pengkhianatan yang tidak diduga menanti pasukan Mongol. Setelah kemenangan atas Jayakatwang.
Dengan cerdik, Raden Wijaya meminta izin untuk kembali ke Majapahit dengan dalih ingin mempersiapkan upeti bagi Kaisar Mongol Khubilai Khan.
Jenderal pasukan Mongol yang sudah percaya dan hanyut dengan eufioria kemenangan membiarkan Raden Wijaya pergi ke Majapahit dikawal dua perwira dan 200 prajurit.
Tak disangka, ketika tiba di Majapahit Raden Wijaya kemudian mempersiapkan pasukan dan kemudian secara cepat berbalik menyerang pengawal Mongol.
Raden Wijaya dan pasukannya kemudian melancarkan serangan mendadak ke kamp-kamp Mongol di Daha dan Canggu, di mana tentara Mongol tengah berpesta minuman keras (miras) merayakan kemenangan mereka.
Serangan cepat dan mendadak ini membuat pasukan Mongol kocar-kacir. Bala tentara Mongol terpaksa mundur dengan tergesa-gesa menuju kapal-kapal mereka di pantai, dikejar oleh pasukan Raden Wijaya. Saat berusaha mundur ini lebih dari 3.000 tentara Mongol tewas di tangan pasukan Raden Wijaya.
Sedangkan sisa-sisa pasukan Mongol yang selamat, termasuk jenderal mereka, Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing, berhasil melarikan diri ke kapal-kapal mereka dan segera meninggalkan Jawa. Pada 24 April 1293 mereka kembali ke Mongol.
Lihat Juga :