Pemprov Gorontalo Ajak Investor Atasi Stunting dan Kemiskinan Ekstrem
Rabu, 16 Oktober 2024 - 18:18 WIB
loading...
A
A
A
Meski persentase ini menurun dari tahun sebelumnya, Gorontalo masih masuk dalam 10 provinsi termiskin di Indonesia. Di sisi lain, prevalensi stunting di Gorontalo meningkat dari 22% pada 2022 menjadi 26,9% di 2023.
Handoyo menyebutkan bahwa untuk mengatasi permasalahan ini, Gorontalo membutuhkan investasi di luar sektor pertanian tradisional.
”Dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) hanya Rp1,8 triliun dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp500 miliar, kita perlu membuka diri terhadap investasi. Ini adalah bagian dari kebijakan untuk menanggulangi kemiskinan,” kata Handoyo.
Gorontalo membutuhkan investor membuka lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian. Saat ini, pertumbuhan ekonomi di Gorontalo hanya 4,5%. Dibutuhkan peningkatan menciptakan 400.000 lapangan kerja baru dari setiap kenaikan 1% pertumbuhan ekonomi.
“Tanpa investasi, ekonomi Gorontalo tidak akan berkembang. Investasi seperti yang dilakukan BJA menjadi sumber pendapatan penting, terutama bagi masyarakat Pohuwato,” ujar Handoyo.
Sejauh ini, BJA telah menginvestasikan Rp1,4 triliun untuk pembangunan dan operasional pabrik wood pellet dengan kapasitas produksi 900.000 ton per tahun.
Handoyo menyebutkan bahwa untuk mengatasi permasalahan ini, Gorontalo membutuhkan investasi di luar sektor pertanian tradisional.
”Dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) hanya Rp1,8 triliun dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp500 miliar, kita perlu membuka diri terhadap investasi. Ini adalah bagian dari kebijakan untuk menanggulangi kemiskinan,” kata Handoyo.
Gorontalo membutuhkan investor membuka lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian. Saat ini, pertumbuhan ekonomi di Gorontalo hanya 4,5%. Dibutuhkan peningkatan menciptakan 400.000 lapangan kerja baru dari setiap kenaikan 1% pertumbuhan ekonomi.
“Tanpa investasi, ekonomi Gorontalo tidak akan berkembang. Investasi seperti yang dilakukan BJA menjadi sumber pendapatan penting, terutama bagi masyarakat Pohuwato,” ujar Handoyo.
Sejauh ini, BJA telah menginvestasikan Rp1,4 triliun untuk pembangunan dan operasional pabrik wood pellet dengan kapasitas produksi 900.000 ton per tahun.
Lihat Juga :