Kisah Jaka Tingkir Naik Rakit Buaya dan Menaklukkan Banteng hingga Jadi Raja Pajang
Jum'at, 11 Oktober 2024 - 06:21 WIB
loading...
A
A
A
Hal ini dilakukannya tanpa sengaja, karena tiba-tiba ia harus menghindari Sultan dan para pengiringnya. Ilmu kanugaran dan fisiknya yang mempuni itulah yang memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat, dan ia pun dijadikan kepala pada satuan itu.
Beberapa waktu kemudian satuan ini perlu diperbesar. Karenanya, Jaka Tingkir kembali diuji, yaitu menghancurkan kepala banteng dengan tangan telanjang, melainkan diuji kekebalannya yang disetujui pula oleh yang bersangkutan.
Maka Jaka Tingkir meminta, agar ia memerlukan tusuk konde saja untuk menghancurkan kepala banteng itu. Benar saja, cukup dengan sebuah tusuk konde belaka bagi Jaka Tingkir untuk menembus jantungnya.
Alangkah hebat kesaktiannya. Tetapi seketika itu juga hal ini mengakibatkan ia dipecat dan dibuang, betapapun kepergiannya itu menimbulkan rasa sedih yang mendalam pada kawan-kawannya.
Dengan rasa putus asa Jaka Tingkir pulang kembali, dan berniat untuk mati saja. Pada perjalanan pulangnya ketika keputusasaan Jaka Tingkir bertemu dua pertapa yakni Kiai Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang.
Keduanya tidak hanya memberi pelajaran, tetapi juga memberi semangat kepadanya.
Ketika Jaka Tingkir berziarah pada malam hari di makam ayahnya di Pengging, terdengarlah suara yang menyuruhnya pergi ke tokoh-tokoh keramat lain, antara lain Kiai Buyut dari Banyubiru, yang selanjutnya menjadi gurunya.
Beberapa waktu kemudian satuan ini perlu diperbesar. Karenanya, Jaka Tingkir kembali diuji, yaitu menghancurkan kepala banteng dengan tangan telanjang, melainkan diuji kekebalannya yang disetujui pula oleh yang bersangkutan.
Maka Jaka Tingkir meminta, agar ia memerlukan tusuk konde saja untuk menghancurkan kepala banteng itu. Benar saja, cukup dengan sebuah tusuk konde belaka bagi Jaka Tingkir untuk menembus jantungnya.
Alangkah hebat kesaktiannya. Tetapi seketika itu juga hal ini mengakibatkan ia dipecat dan dibuang, betapapun kepergiannya itu menimbulkan rasa sedih yang mendalam pada kawan-kawannya.
Dengan rasa putus asa Jaka Tingkir pulang kembali, dan berniat untuk mati saja. Pada perjalanan pulangnya ketika keputusasaan Jaka Tingkir bertemu dua pertapa yakni Kiai Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang.
Keduanya tidak hanya memberi pelajaran, tetapi juga memberi semangat kepadanya.
Ketika Jaka Tingkir berziarah pada malam hari di makam ayahnya di Pengging, terdengarlah suara yang menyuruhnya pergi ke tokoh-tokoh keramat lain, antara lain Kiai Buyut dari Banyubiru, yang selanjutnya menjadi gurunya.
Lihat Juga :