Kisah Mpu Prapanca Rela Bertapa demi Redakan Konflik Agama di Kerajaan Majapahit

Kamis, 10 Oktober 2024 - 07:00 WIB
loading...
Kisah Mpu Prapanca Rela...
Pujangga Kerajaan Majapahit Mpu Prapanca. Foto/Ilustrasi
A A A
KONFLIK perselisihan dan diskriminasi agama Hindu Siwa dan Buddha, sempat terjadi semasa Raja Hayam Wuruk berkuasa di Kerajaan Majapahit. Konflik ini bahkan dibahas Mpu Prapanca, pujangga yang kerap memuja Hayam Wuruk.

Maklumlah sosok Mpu Prapanca merupakan penganut agama Buddha. Tapi ia menyamarkan dirinya dengan Mpu Winada, hingga harus mengasingkan dirinya usai kritikan ke pemerintahan Hayam Wuruk.

Saat itu di Kerajaan Majapahit memang agama yang dipeluk sang raja adalah Hindu Siwa. Sedangkan Buddha merupakan agama kedua. Konon penganaktirian agama Buddha ini dibahas Mpu Prapanca dalam bentuk karya Nagarakretagama, yang menyebut dengan Mpu Winada.

Baca juga: Aksi Senyap Jenderal Kopassus Sutiyoso Lumpuhkan Pentolan GAM Tanpa Baku Tembak

Dikutip dari buku “Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit” dari sejarawan Prof. Slamet Muljana dijelaskan, diskriminasi kedua agama itu ditandai dengan tidak terawatnya bangunan - bangunan dan arca peninggalan Buddha di masa Hayam Wuruk.

Bahkan salah satu arca yakni Arca Aksobya, yang ada di salah satu bangunan suci agama Buddha di Kerajaan Majapahit hilang. Kehilangan itu dianggap Mpu Winada, yang tak lain adalah Mpu Prapanca akibat kurang perhatiannya pemerintahan Hayam Wuruk dengan agama yang lainnya.

Mpu Winada dalam pupuh 97 Negarakretagama tidak ada hubungannya dengan Mpu Nada sebagai nama pejabat pembesar yang mempunyai gelar dang âcârya pada piagam yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka, seorang filolog dan sejarawan.

Siapa Mpu Winada diungkap Slamet Muljana, sosoknya diceritakan jelas oleh Mpu Prapanca. Mpu Prapanca menceritakan Winada adalah orang yang semula senang mengumpulkan harta benda, tetapi tidak berbahagia karenanya. Bahkan hidupnya malah sengsara.

Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Letjen Sutiyoso Menyamar Jadi Sopir untuk Tangkap Pimpinan GAM di Pedalaman Aceh

Kemudian ia membagikan segala hartanya kepada orang lain lalu pergi bertapa. Ia ingin menjadi pahlawan dalam tapa brata. Empu Winada pemeluk agama Budha.

Pendeta baik sikapnya dan putus dalam ilmu itu diberi nama Winada oleh Prapanca, sedangkan kata winada artinya "tercela".

Demikianlah, Prapanca mengadakan sindiran dengan menggunakan kata winada sebagai nama pendeta Budha. Ia sendiri ingin menjadi seperti empu Winada. Demikianlah sesungguhnya Prapanca juga termasuk golongan orang yang dicela.

Ini terbukti dari pupuh 95/1 baris 1, di mana ia berkata: "Nasib badan dihina oleh bangsawan, hidup canggung di dusun", yang dimaksud dengan winada ialah pemeluk agama Budha.

Jumlahnya banyak, karena pupuh 98/1 baris 4 memuat kata parawinada cinala ri dalìm, orang-orang yang dicacat dan dicela di istana.

Timbulnya celaan karena perselisihan.Justru karena jelas sekali pada baris tersebut dengan adanya katari dalen(di istana), maka perselisihan itu terjadi antara pemeluk agama Budha dan agama Siwa.

Maklumlah, agama Siwa adalah agama negara pada zaman pemerintahan Hayam Wuruk. Prabu Hayam Wuruk adalah pemeluk agama Siwa. Begitulah, Prapanca sebagai pembesar urusan agama Budha di kerajaan Majapahit menjadi korban perselisihan agama Budha dan Siwa.

Dari sudut ini kita sekarang dapat memahami mengapa Prapanca meninggalkan istana, hidup di dusun, kemudian bertapa di lereng gunung di desa Kamalasana.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Biksu Buddha di China...
Biksu Buddha di China Dilaporkan Ditahan usai Peringati Peristiwa Tiananmen
Dian Sastro Hadiri Perayaan...
Dian Sastro Hadiri Perayaan Waisak di Borobudur, Ternyata Ini Alasannya!
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Rekomendasi
Sinopsis Sinetron Terikat...
Sinopsis Sinetron 'Terikat Janji' Eps 73, Penyergapan Pecah Menjadi Baku Tembak dan Pertarungan Sengit
NASA Temukan Planet...
NASA Temukan Planet Raksasa dengan Suhu seperti di Bumi dan Dipenuhi Gas Metana
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Berita Terkini
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
Peringati Tahun Baru...
Peringati Tahun Baru Islam, DPP PSI Santuni 100 Anak Yatim dan Duafa
KAMMI Sesalkan Pembubaran...
KAMMI Sesalkan Pembubaran Forum Diskusi di UGM
Gempa Magnitudo 6,7...
Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Sulteng, 1 Warga Sigi Meninggal Dunia
Yayasan Syarif Hidayatullah...
Yayasan Syarif Hidayatullah Dipakai Tanpa Izin, UIN Jakarta Siapkan Langkah Hukum
Gunung Merapi Erupsi,...
Gunung Merapi Erupsi, Guguran Lava Meluncur 2 Kilometer ke Arah Barat
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved