Karamah Kiai Abbas, Panglima Perang 10 November: Kibasan Sorban dan Tongkatnya Merontokkan Pesawat Sekutu
Minggu, 06 Oktober 2024 - 17:28 WIB
loading...
A
A
A
Menurut catatan tentara Inggris, dari pertempuran ini hingga 17 Desember 1945, mereka kehilangan setidaknya tujuh pesawat Thunderbolt.
Kesaktian Kiai Abbas juga dikenal dalam hal pencak silat. Menurut Mang Kisom, seorang pendekar Buntet, Kiai Abbas sering menguji murid-muridnya dengan meminta mereka untuk mengeroyoknya dalam latihan silat.
Namun, tak satu pun dari mereka yang berhasil menyentuh tubuhnya. Gerakan Kiai Abbas begitu cepat, seolah-olah kakinya tak menempel di tanah, membuat lawan-lawannya tersungkur sebelum sempat melawan.
Kisah menarik lainnya adalah ketika seorang preman antek Belanda mencoba menyerang Kiai Abbas dengan belati. Saat itu, Kiai Abbas sedang memegang Al-Qur'an di tangan kanannya dan tangan kirinya dipegang oleh preman tersebut. Ujung belati tajam mengancam lehernya.
Namun, tanpa rasa takut, Kiai Abbas dengan gerakan cepat berhasil menjatuhkan preman itu. Setelah kejadian tersebut, preman itu justru menjadi murid dan pengawal setia Kiai Abbas.
Kiai Abbas lahir pada 24 Zulhijah 1300 H atau 1879 M di Desa Pekalangan, Cirebon. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai santri yang rajin mengembara dari satu pesantren ke pesantren lainnya, hingga akhirnya menjadi murid dari para ulama besar, termasuk Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy'ari di Tebuireng.
Setelah pulang dari belajar di Mekkah, Kiai Abbas menjadi tokoh besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kiai Abbas wafat pada tahun 1946 di usia 64 tahun, dan dimakamkan di Pesantren Buntet, Cirebon. Hingga kini, kisah kehebatan dan karomahnya terus hidup dalam ingatan.
Pencak Silat Buntet
Kesaktian Kiai Abbas juga dikenal dalam hal pencak silat. Menurut Mang Kisom, seorang pendekar Buntet, Kiai Abbas sering menguji murid-muridnya dengan meminta mereka untuk mengeroyoknya dalam latihan silat.
Namun, tak satu pun dari mereka yang berhasil menyentuh tubuhnya. Gerakan Kiai Abbas begitu cepat, seolah-olah kakinya tak menempel di tanah, membuat lawan-lawannya tersungkur sebelum sempat melawan.
Kisah menarik lainnya adalah ketika seorang preman antek Belanda mencoba menyerang Kiai Abbas dengan belati. Saat itu, Kiai Abbas sedang memegang Al-Qur'an di tangan kanannya dan tangan kirinya dipegang oleh preman tersebut. Ujung belati tajam mengancam lehernya.
Namun, tanpa rasa takut, Kiai Abbas dengan gerakan cepat berhasil menjatuhkan preman itu. Setelah kejadian tersebut, preman itu justru menjadi murid dan pengawal setia Kiai Abbas.
Kiai Abbas lahir pada 24 Zulhijah 1300 H atau 1879 M di Desa Pekalangan, Cirebon. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai santri yang rajin mengembara dari satu pesantren ke pesantren lainnya, hingga akhirnya menjadi murid dari para ulama besar, termasuk Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy'ari di Tebuireng.
Setelah pulang dari belajar di Mekkah, Kiai Abbas menjadi tokoh besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kiai Abbas wafat pada tahun 1946 di usia 64 tahun, dan dimakamkan di Pesantren Buntet, Cirebon. Hingga kini, kisah kehebatan dan karomahnya terus hidup dalam ingatan.
(shf)
Lihat Juga :