Kisah Mayjen Iwan Setiawan Jadi Orang Pertama yang Kibarkan Merah Putih di Gunung Everest
Minggu, 06 Oktober 2024 - 13:22 WIB
loading...
A
A
A
Dengan semangat juang yang tinggi, Iwan berhasil menyusul timnya setelah lima hari. Dari situ, dia tidak pernah lagi mengalami masalah kesehatan. Ia kemudian dipilih untuk memimpin tim terkuat dari selatan Nepal bersama Pratu Asmujiono dan Sertu Misirin, sementara satu tim lainnya dipimpin Letnan Sudarto dari Tibet.
Di Camp 4, timnya mengalami kesulitan karena kehabisan logistik, yang membuat mereka tidak bisa makan sebelum mencapai puncak. “Selama tiga hari, saya hanya bisa makan muntah. Kami kehabisan makanan,” ucapnya.
Meskipun dalam keadaan tersebut, Iwan bersama Pratu Asmujiono dan Sertu Misirin bertekad menancapkan Merah Putih di puncak Everest, meski nyawa menjadi taruhannya. “Kami sampai di puncak pada pukul 15.10, hanya 10 menit untuk foto sebelum turun,” kenangnya.
Keterlambatan mereka menyebabkan mereka terjebak di ketinggian 8.500 meter tanpa oksigen, sleeping bag, dan matras. Dalam situasi yang sangat berbahaya, tim mereka dianggap sudah mati oleh orang-orang di base camp.
“Kami terbangun keesokan harinya dan melihat semuanya putih. Kita turun ke bawah semuanya kaget ternyata kita masih hidup,” ucapnya dengan kelegaan.
Baca juga: Pangdam Siliwangi yang Tembus Bintang 4, 3 Nama Melesat Jadi Panglima TNI
Mantan Danpusdikpassus ini mengingat kembali pesan Prabowo Subianto tentang pentingnya meluruskan niat dalam pendakian Mount Everest. “Kenapa bisa selamat, bukan karena kita kuat, tapi Tuhan memberi kesempatan untuk kita menziarahi puncak tertinggi di dunia. Dari 24 negara hanya kita yang sampai duluan di 1997,” pungkasnya.
Di Camp 4, timnya mengalami kesulitan karena kehabisan logistik, yang membuat mereka tidak bisa makan sebelum mencapai puncak. “Selama tiga hari, saya hanya bisa makan muntah. Kami kehabisan makanan,” ucapnya.
Meskipun dalam keadaan tersebut, Iwan bersama Pratu Asmujiono dan Sertu Misirin bertekad menancapkan Merah Putih di puncak Everest, meski nyawa menjadi taruhannya. “Kami sampai di puncak pada pukul 15.10, hanya 10 menit untuk foto sebelum turun,” kenangnya.
Keterlambatan mereka menyebabkan mereka terjebak di ketinggian 8.500 meter tanpa oksigen, sleeping bag, dan matras. Dalam situasi yang sangat berbahaya, tim mereka dianggap sudah mati oleh orang-orang di base camp.
“Kami terbangun keesokan harinya dan melihat semuanya putih. Kita turun ke bawah semuanya kaget ternyata kita masih hidup,” ucapnya dengan kelegaan.
Baca juga: Pangdam Siliwangi yang Tembus Bintang 4, 3 Nama Melesat Jadi Panglima TNI
Mantan Danpusdikpassus ini mengingat kembali pesan Prabowo Subianto tentang pentingnya meluruskan niat dalam pendakian Mount Everest. “Kenapa bisa selamat, bukan karena kita kuat, tapi Tuhan memberi kesempatan untuk kita menziarahi puncak tertinggi di dunia. Dari 24 negara hanya kita yang sampai duluan di 1997,” pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :