Kisah Mayjen Iwan Setiawan Jadi Orang Pertama yang Kibarkan Merah Putih di Gunung Everest
Minggu, 06 Oktober 2024 - 13:22 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun menyadari risiko besar dari pendakian setinggi 8.884 meter ini, Iwan menganggap tugas tersebut sebagai kehormatan yang harus dijalani sebaik mungkin. Ia berlatih selama tiga bulan di Mako Kopassus Cijantung dan Gunung Gede Pangrango, Bogor, Jawa Barat—waktu yang relatif singkat untuk persiapan mendaki gunung es di Nepal dan Tibet.
“Mendaki Mount Everest butuh latihan selama 3 sampai 5 tahun, itu harus pernah mendaki gunung ketinggian 3.000, 4.000, beberapa gunung es, ketinggian 6.000, 7.000 terakhir 8.000 Mount Everest. Sedangkan kita dari negara tropis, belum berpengalaman, dan belum pernah lihat es,” paparnya.
Selama latihan tersebut, mantan Danjen Kopassus ini bersama timnya tidur di atas gunung dan bangun pukul 04.00 WIB selanjutnya lari dari Gunung Gede ke Pangrango setiap hari. Namun dibandingkan dengan Mount Everest tidak ada apa-apanya.
“Memang ada saran dari pendaki sipil, latihan di Jaya Wijaya karena masih dingin. Tetapi Pak Prabowo tidak boleh karena waktu itu baru ada penyanderaan Mapenduma. Kita langsung latihan di sana saja di medan sebenarnya,” ujarnya.
Setelah berlatih tiga bulan di Indonesia, pada 18 Desember Iwan dan tim berangkat ke Nepal untuk berlatih lagi di dua gunung bersalju, yakni Gunung Paldor dan Gunung Island Peak. ”Kita di drop di suatu ketinggian, tapi baru berjalan saya muntah-muntah, saya tidak bisa lanjut karena hipoksia,” tuturnya.
Dalam kondisi tidak berdaya, salah seorang pelatih bernama Anatolo Boukreev yang mendampinginya memberikan dua opsi yakni, tinggal selama dua hari lalu menyusul kalau bisa atau pulang.
"Saya di situ merenung, sedih dan malu. Masa pulang, saya perwira satu-satunya Akmil yang diharapkan untuk memimpin Everest, masa saya gagal menjalankan tugas. Lebih baik mati daripada gagal dalam tugas,” ucap Iwan.
“Mendaki Mount Everest butuh latihan selama 3 sampai 5 tahun, itu harus pernah mendaki gunung ketinggian 3.000, 4.000, beberapa gunung es, ketinggian 6.000, 7.000 terakhir 8.000 Mount Everest. Sedangkan kita dari negara tropis, belum berpengalaman, dan belum pernah lihat es,” paparnya.
Selama latihan tersebut, mantan Danjen Kopassus ini bersama timnya tidur di atas gunung dan bangun pukul 04.00 WIB selanjutnya lari dari Gunung Gede ke Pangrango setiap hari. Namun dibandingkan dengan Mount Everest tidak ada apa-apanya.
“Memang ada saran dari pendaki sipil, latihan di Jaya Wijaya karena masih dingin. Tetapi Pak Prabowo tidak boleh karena waktu itu baru ada penyanderaan Mapenduma. Kita langsung latihan di sana saja di medan sebenarnya,” ujarnya.
Setelah berlatih tiga bulan di Indonesia, pada 18 Desember Iwan dan tim berangkat ke Nepal untuk berlatih lagi di dua gunung bersalju, yakni Gunung Paldor dan Gunung Island Peak. ”Kita di drop di suatu ketinggian, tapi baru berjalan saya muntah-muntah, saya tidak bisa lanjut karena hipoksia,” tuturnya.
Dalam kondisi tidak berdaya, salah seorang pelatih bernama Anatolo Boukreev yang mendampinginya memberikan dua opsi yakni, tinggal selama dua hari lalu menyusul kalau bisa atau pulang.
"Saya di situ merenung, sedih dan malu. Masa pulang, saya perwira satu-satunya Akmil yang diharapkan untuk memimpin Everest, masa saya gagal menjalankan tugas. Lebih baik mati daripada gagal dalam tugas,” ucap Iwan.
Lihat Juga :