Peran Eks Menhan Amir Sjarifuddin Letuskan Tragedi Pemberontakan PKI di Madiun 1948

Jum'at, 04 Oktober 2024 - 09:00 WIB
loading...
Peran Eks Menhan Amir...
Sekelompok orang yang diduga pelaku pemberontakan PKI di Madiun ditangkap TNI pada tahun 1948. Foto/IST
A A A
PEMBERONTAKAN Partai Komunis Indonesia (PKI) Madiun tak bisa dilepaskan dari peran Musso dan Amir Sjarifuddin. Amir merupakan mantan menteri pertahanan (Menhan) sempat bertemu dengan Musso dan Soemarsono, tokoh pejuang perang Surabaya melawan sekutu.

Saat itu rombongan PKI baru saja melakukan tur dari Kediri hingga ke Bojonegoro. Pemberontakan PKI di Madiun konon diinisiasi oleh para tokoh-tokoh kiri, di mana tokoh Politbiro yang konon merupakan elite - elite politik dari partai komunis.

Eks Menhan Amir Sjarifuddin sempat membicarakan situasi di Madiun saat bertemu Soemarsono di Kediri. Di sana Amir sempat menanyakan perimbangan kekuatan, sebelum peristiwa pemberontakan di Madiun pada 18 September 1948.

Baca juga: Ajaib! Letkol Hanandjoeddin Lepas dari Kepungan Pasukan Gaib Jawa Kuno usai Kumandangkan Istighfar

Amir Sjarifuddin pula yang memimpin Front Demokrasi Rakyat (FDR) organisasi front persatuan garis kiri, termasuk di antaranya PKI dan Partai Sosialis Indonesia, dan Pesindo.

Dikutip dari buku “Negara Madiun? Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan”, penculikan mulai terjadi di Kediri. Pasukan yang tak diketahui itu menculik pemimpin Serikat Buruh Dalam Negeri (Sebda), yang waktu itu melakukan pemogokan.

Tiga pemimpin mereka diculik dan hilang tak tahu jejaknya.Di Kediri, Soemarsono berunding dengan Amir Sjarifuddin dan Musso. Usai bertemu Musso, Musso meneruskan perjalanan ke Bojonegoro.

Komunikasi masih sempat terjadi antara Musso dan Soemarsono, mengenai kondisi di Madiun dan sekitarnya. Tapi pada perjalanannya, konon Musso tak jadi lagi ke Bojonegoro. Suatu hal yang membuatnya memutar arah kembali ke Madiun, tapi tak diketahui penyebabnya.

Baca juga: Kisah Prabu Sanna, Raja Ketiga Kerajaan Galuh Terkenal Bijaksana Cikal Bakal Mataram Kuno

Usai kedatangan ke Madiun itu pertempuran muncul, pertempuran ini terjadi jam 2 dini hari, hingga selesai pukul 05.30. Pasukan gelap yang tak diketahui itu berhadapan dengan bekas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), yang sudah menjadi TNI.

Laskar Pesindo sebagaimana kisah cerita dari Soemarsono, tidak dilibatkan secara langsung. Tapi karena di Madiun ada Batalyon TNI Brigade 29, dengan komandannya Kolonel Dachlan, maka itulah yang digunakan menumpas pertempuran.

Selain Kolonel Dachlan, Mayor Abdulrahman dan Mayor Mustofa merupakan bekas Pesindo, sedangkan Mayor Panjang disebut Soemarsono bekas PRI. Pasukan yang dilucuti tentara Indonesia konon menggunakan tanda tengkorak, tapi awalnya memang tak dikenali.

“Pasukan gelap berhasil kami lucuti. Korban lima orang dalam semalam itu, dari dua pihak. Kita dua orang yang mati,” kata Soemarsono, dalam buku “Negara Madiun” itu.

Usai itu, Musso disebut Soemarsono, sempat datang ke rumahnya. Saat itu Musso masih sempat berkampanye di Madiun, sebelum pecah peristiwa yang lebih besar lagi. Pergolakan di Madiun itu juga sempat menarik Panglima Besar Sudirman.

Sehingga memerintahkan Soeharto, yang saat ini masih berpangkat Letkol untuk ke Madiun. Di Madiun utusan panglima besar Jenderal Sudirman itu melihat beberapa penjara, guna memastikan pasukan yang berhasil ditumpas oleh TNI pada pemberontakan itu.

Tapi usai pertempuran dan dilucuti senjatanya, tak ada satu pun yang ditawan, karena maksud dan tujuannya hanya ingin mematahkan kekuatan yang membahayakan negara.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Menhan AS Tegaskan Tak...
Menhan AS Tegaskan Tak akan Lagi Subsidi Negara-negara Kaya
Kasus Pemerasan Maidi,...
Kasus Pemerasan Maidi, KPK Periksa Plt Wali Kota Madiun sebagai Saksi
Rekomendasi
Nikahi Jennifer Coppen,...
Nikahi Jennifer Coppen, Justin Hubner Berikan Mahar 12 Gram Emas dan Uang 2.026 Euro
PKB Jabar Fest, Gus...
PKB Jabar Fest, Gus Muhaimin: Kita Tak Butuh Pemimpin Pencitraan
Berawal dari HP Kentang,...
Berawal dari HP Kentang, Adang Haedaroh Sukses Jadi Kreator Gaming dengan 61 Ribu Followers
Berita Terkini
10 Ruas Jalan di Jakarta...
10 Ruas Jalan di Jakarta Ditutup saat Presiden Jerman Melintas Besok Pagi
Megawati Ziarah ke Makam...
Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno, Hasto: Untuk Merawat Api Perjuangan yang Tak Pernah Padam
Jakarta Fair 2026, Dishub...
Jakarta Fair 2026, Dishub DKI Jakarta Siapkan 6 Kantong Parkir
Dorong Pengembangan...
Dorong Pengembangan Sport Tourism, PPK Kemayoran Gelar Turnamen Padel
Bangun MIN 5 Pidie Jaya...
Bangun MIN 5 Pidie Jaya yang Hanyut Akibat Banjir, Kemenag Alokasikan Rp12 Miliar
Perikhsa Riders Touring...
Perikhsa Riders Touring Perdana Malang-Bali, Bamsoet Tekankan Disiplin dan Persatuan
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved