Perlawanan Arek-arek Malang dalam Perang Pertahankan Kemerdekaan Melawan Belanda di Coban Jahe
Senin, 12 Agustus 2024 - 08:28 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Karomah Bambu Runcing Kiai Ahmad Fauzan Mampu Usir Tentara Jepang dan Belanda dari Pati
Eko menjelaskan bila meski para pejuang telah berhati-hati dan berjalan kaki di sepanjang hutan lembah untuk menghindari pasukan Belanda. Namun ternyata ada warga pribumi yang membocorkan tempat persembunyian pasukan Gagak Lodra ini.
“Ada warga kita yang membocorkan ke Belanda mengatakan ada pasukan gerilyawan ini berada di lembah hutan Kalijahe. Kan memang warga sendiri ada yang pro dan kontra Belanda. Jadi mungkin Belanda ini bisa memprovokasi warga pribumi untuk menjadi mata-mata,” terang pria yang juga pengelola Museum Reenactor Ngalam.
Pertempuran selama dua hari di Coban Jahe ini berjalan tak seimbang. Pasukan Belanda yang menggunakan senapan otomatis dan granat berada di atas bukit dengan kekuatan pasukan lebih banyak. Sedangkan gerilyawan pejuang Indonesia hanya dengan persenjataan senapan rampasan perang dan berada di lembah atau bawah bukit.
Belum lagi saat pertempuran kondisi hujan dan kabut membuat pejuang Indonesia kesulitan melihat lawan.
“Hasilnya ya dari ratusan pasukan itu 38 pejuang kita gugur. Sementara yang selamat diperkirakan 150 orang tapi akhirnya mundur dan melarikan diri melalui sungai menuju kampung,” ucapnya.
Namun pertempuran besar di Kalijahe yang banyak memakan korban juga membawa hikmah. Pasalnya pasukan lainnya yang dipimpin Abdul Syarif dan Samsul Islam dari Jajang, Poncokusumo berhasil melewati Tosari, hingga akhirnya menuju Probolinggo dan Pasuruan untuk menyiapkan pasukan yang lebih besar lagi.
Eko menjelaskan bila meski para pejuang telah berhati-hati dan berjalan kaki di sepanjang hutan lembah untuk menghindari pasukan Belanda. Namun ternyata ada warga pribumi yang membocorkan tempat persembunyian pasukan Gagak Lodra ini.
“Ada warga kita yang membocorkan ke Belanda mengatakan ada pasukan gerilyawan ini berada di lembah hutan Kalijahe. Kan memang warga sendiri ada yang pro dan kontra Belanda. Jadi mungkin Belanda ini bisa memprovokasi warga pribumi untuk menjadi mata-mata,” terang pria yang juga pengelola Museum Reenactor Ngalam.
Pertempuran selama dua hari di Coban Jahe ini berjalan tak seimbang. Pasukan Belanda yang menggunakan senapan otomatis dan granat berada di atas bukit dengan kekuatan pasukan lebih banyak. Sedangkan gerilyawan pejuang Indonesia hanya dengan persenjataan senapan rampasan perang dan berada di lembah atau bawah bukit.
Belum lagi saat pertempuran kondisi hujan dan kabut membuat pejuang Indonesia kesulitan melihat lawan.
“Hasilnya ya dari ratusan pasukan itu 38 pejuang kita gugur. Sementara yang selamat diperkirakan 150 orang tapi akhirnya mundur dan melarikan diri melalui sungai menuju kampung,” ucapnya.
Namun pertempuran besar di Kalijahe yang banyak memakan korban juga membawa hikmah. Pasalnya pasukan lainnya yang dipimpin Abdul Syarif dan Samsul Islam dari Jajang, Poncokusumo berhasil melewati Tosari, hingga akhirnya menuju Probolinggo dan Pasuruan untuk menyiapkan pasukan yang lebih besar lagi.
Lihat Juga :