Kisah Penumpasan Paraku, TNI dan Rakyat Bersatu Lawan Kaki Tangan Malaysia
Rabu, 07 Agustus 2024 - 07:43 WIB
loading...
A
A
A
Pada 2 Desember 1963, Soebandrio, Wakil Menteri Pertama Indonesia, datang ke Kalimantan Barat untuk kampanye anti-Malaysia dan memperkenalkan Syekh AM Azahari, pemimpin Partai Rakyat Brunei.
Azahari memproklamirkan berdirinya Negara Nasional Kalimantan Utara (NNKU) pada 8 Desember 1962, mencakup Serawak, Brunei, dan Sabah. Pertemuan di Sintang dan Bogor memutuskan pembentukan pasukan bersenjata, cikal bakal PGRS dan Paraku.
Baca Juga: Kisah Laksamana Malahayati, Singa Betina Tanah Rencong Penjaga Selat Malaka
Pasukan Paraku yang terdiri dari etnis Tionghoa dan berbagai etnis lain dilatih militer oleh TNI dan sukarelawan Indonesia. Kodam Tanjungpura memberikan pelatihan militer pada sukarelawan SUPP (Sarawak United People Party) dan sukarelawan dari Jakarta di Bengkayang.
Letnan Kolonel Harsono Subardi, mantan Biro Intel POM Kodam XII Tanjungpura, menyatakan bahwa mereka melatih PGRS/Paraku untuk membantu memerdekakan Malaysia.
Namun, setelah pergantian pemerintahan dari Sukarno ke Soeharto, dan situasi politik anti-komunis, Paraku/PGRS menjadi musuh pemerintah Indonesia dan TNI. Pada akhirnya, TNI bersekutu dengan militer Malaysia dan Inggris untuk menumpas Paraku-PGRS.
Azahari memproklamirkan berdirinya Negara Nasional Kalimantan Utara (NNKU) pada 8 Desember 1962, mencakup Serawak, Brunei, dan Sabah. Pertemuan di Sintang dan Bogor memutuskan pembentukan pasukan bersenjata, cikal bakal PGRS dan Paraku.
Baca Juga: Kisah Laksamana Malahayati, Singa Betina Tanah Rencong Penjaga Selat Malaka
Pasukan Paraku yang terdiri dari etnis Tionghoa dan berbagai etnis lain dilatih militer oleh TNI dan sukarelawan Indonesia. Kodam Tanjungpura memberikan pelatihan militer pada sukarelawan SUPP (Sarawak United People Party) dan sukarelawan dari Jakarta di Bengkayang.
Letnan Kolonel Harsono Subardi, mantan Biro Intel POM Kodam XII Tanjungpura, menyatakan bahwa mereka melatih PGRS/Paraku untuk membantu memerdekakan Malaysia.
Namun, setelah pergantian pemerintahan dari Sukarno ke Soeharto, dan situasi politik anti-komunis, Paraku/PGRS menjadi musuh pemerintah Indonesia dan TNI. Pada akhirnya, TNI bersekutu dengan militer Malaysia dan Inggris untuk menumpas Paraku-PGRS.
Lihat Juga :