Kisah Perwira Sunda, Satu-satunya yang Selamat dari Pertempuran Melawan Majapahit
Senin, 05 Agustus 2024 - 09:41 WIB
loading...
A
A
A
Pitar kemudian kembali ke Sunda dan menyampaikan kabar duka kepada permasuri Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka. Kabar tersebut menyentuh hati keluarga kerajaan, dan dalam keputusasaan mereka, permasuri dan para istri menteri melakukan bunuh diri massal di atas mayat-mayat suami mereka. Putri Dyah Pitaloka memilih bunuh diri dengan cara menikam perutnya, sesuai dengan anjuran ibu permasuri.
Cerita menyebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk sangat terpukul mengetahui kematian Dyah Pitaloka. Ia pingsan setelah menemukan jasad calon istrinya. Kesedihan mendalam ini mengakibatkan perubahan besar dalam kehidupan Hayam Wuruk, dan ia mengalami penderitaan berat hingga akhirnya meninggal dunia. Setelah kematiannya, para paman dan menteri Hayam Wuruk mengecam Gajah Mada sebagai penyebab bencana tersebut dan memutuskan untuk menangkapnya.
Gajah Mada, yang menyadari saat-saat terakhirnya sebagai Patih Amangkubumi, menganggap bahwa waktunya untuk moksa (pembebasan spiritual) telah tiba. Gajah Mada, yang sebelumnya menghalangi Hayam Wuruk untuk menemui Raja Linggabuana dan menipu bahwa rombongan Sunda adalah musuh yang menyamar, akhirnya dikepung oleh para prajurit Majapahit dan ditangkap.
Kisah heroik Pitar tidak hanya menambah dimensi dramatis dari Perang Bubat tetapi juga menyoroti tragedi pribadi dan politik yang mempengaruhi takdir kedua kerajaan. Dalam pertempuran yang menghancurkan, satu perwira dengan keberanian dan kecerdikannya tetap menjadi saksi bisu dari tragedi yang mengguncang sejarah Jawa dan Sunda.
Cerita menyebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk sangat terpukul mengetahui kematian Dyah Pitaloka. Ia pingsan setelah menemukan jasad calon istrinya. Kesedihan mendalam ini mengakibatkan perubahan besar dalam kehidupan Hayam Wuruk, dan ia mengalami penderitaan berat hingga akhirnya meninggal dunia. Setelah kematiannya, para paman dan menteri Hayam Wuruk mengecam Gajah Mada sebagai penyebab bencana tersebut dan memutuskan untuk menangkapnya.
Gajah Mada, yang menyadari saat-saat terakhirnya sebagai Patih Amangkubumi, menganggap bahwa waktunya untuk moksa (pembebasan spiritual) telah tiba. Gajah Mada, yang sebelumnya menghalangi Hayam Wuruk untuk menemui Raja Linggabuana dan menipu bahwa rombongan Sunda adalah musuh yang menyamar, akhirnya dikepung oleh para prajurit Majapahit dan ditangkap.
Kisah heroik Pitar tidak hanya menambah dimensi dramatis dari Perang Bubat tetapi juga menyoroti tragedi pribadi dan politik yang mempengaruhi takdir kedua kerajaan. Dalam pertempuran yang menghancurkan, satu perwira dengan keberanian dan kecerdikannya tetap menjadi saksi bisu dari tragedi yang mengguncang sejarah Jawa dan Sunda.
(hri)
Lihat Juga :