Kisah Pasukan Baret Jingga Nyaris Bom Tentara Australia saat Konflik Timor Timur
Rabu, 17 Juli 2024 - 10:04 WIB
loading...
A
A
A
Ketegangan meningkat ketika Pangkoopsau II Marsda TNI Ian Santosa tiba di Bandara Komoro pada 20 September 1999. Saat turun dari pesawat C-130 Hercules TNI AU, dia dikawal oleh pasukan Paskhas bersenjata lengkap.
Baca Juga: Kisah Jenderal Sintong Murka ke Prabowo: Tinggalkan Kopassus, Keluar Tentara atau Masuk Partai?
Namun, kedatangannya disambut dengan senjata yang ditodongkan oleh pasukan Interfet, yang menganggap rombongan Marsda TNI Ian Santosa sebagai ancaman. Reaksi keras datang dari prajurit Paskhas yang langsung menodongkan senjata mereka kepada pasukan Interfet.
Mereka bahkan siap meledakkan granat jika ada ancaman terhadap pimpinan mereka. Dalam situasi yang sangat tegang ini, Kapten Eka, salah satu komandan Paskhas, dengan tegas berteriak, “Hei, ini jenderal saya, panglima saya, keamanan di sini tanggung jawab saya.”
Kondisi sangat genting, dengan kedua belah pihak saling menodongkan senjata. Kapten Eka memperingatkan agar tidak ada tembakan sebelum ada komando darinya, seraya siap memulai aksi jika diperlukan.
Meskipun Paskhas kalah jumlah personel dibandingkan Interfet, mereka sepakat menggunakan granat sebagai senjata mematikan jika terjadi kontak senjata.
Baca Juga: Kisah Pasukan Siliwangi Konvoi 600 Km Bersama Anak Istri Hadapi Serangan Belanda dan DI/TII
Baca Juga: Kisah Jenderal Sintong Murka ke Prabowo: Tinggalkan Kopassus, Keluar Tentara atau Masuk Partai?
Namun, kedatangannya disambut dengan senjata yang ditodongkan oleh pasukan Interfet, yang menganggap rombongan Marsda TNI Ian Santosa sebagai ancaman. Reaksi keras datang dari prajurit Paskhas yang langsung menodongkan senjata mereka kepada pasukan Interfet.
Mereka bahkan siap meledakkan granat jika ada ancaman terhadap pimpinan mereka. Dalam situasi yang sangat tegang ini, Kapten Eka, salah satu komandan Paskhas, dengan tegas berteriak, “Hei, ini jenderal saya, panglima saya, keamanan di sini tanggung jawab saya.”
Kondisi sangat genting, dengan kedua belah pihak saling menodongkan senjata. Kapten Eka memperingatkan agar tidak ada tembakan sebelum ada komando darinya, seraya siap memulai aksi jika diperlukan.
Meskipun Paskhas kalah jumlah personel dibandingkan Interfet, mereka sepakat menggunakan granat sebagai senjata mematikan jika terjadi kontak senjata.
Baca Juga: Kisah Pasukan Siliwangi Konvoi 600 Km Bersama Anak Istri Hadapi Serangan Belanda dan DI/TII
Lihat Juga :