Kisah Sultan Agung dan Strategi Mataram Taklukkan Surabaya yang Gigih
Rabu, 19 Juni 2024 - 07:10 WIB
loading...
A
A
A
Menyadari kegigihan pertahanan Surabaya, Sultan Agung mengubah strategi dengan mengirim Tumenggung Bahureksa untuk menaklukkan Sukadana di Kalimantan sebelah barat daya. Selain itu, Ki Juru Kiting dikirim untuk menaklukkan Madura pada tahun 1624 M. Pulau Madura, yang terdiri dari banyak kadipaten, akhirnya dapat disatukan di bawah kepemimpinan Pangeran Prasena yang bergelar Cakraningrat I.
Dengan berhasilnya penaklukan Sukadana dan Madura, posisi Surabaya menjadi semakin lemah karena suplai pangan mereka terputus. Akibat kelaparan hebat, Surabaya akhirnya menyerah kepada Mataram di bawah kepemimpinan Pangeran Jayalengkara. Penyerahan ini dipimpin oleh Tumenggung Mangun Oneng.
Baca Juga: 3 Penguasa Pertama Kesultanan Mataram, Salah Satunya Mencapai Masa Keemasan
Setelah Surabaya jatuh ke tangan Mataram, Sultan Agung memperkuat aliansi dengan menikahkan putrinya, Pandansari, dengan Pangeran Pekik, putra Adipati Surabaya. Namun, pada tahun berikutnya, Kesultanan Mataram dilanda wabah penyakit yang mematikan, yang menewaskan dua pertiga penduduknya antara tahun 1625 dan 1627 M.
Kisah ini menggambarkan betapa rumit dan berdarahnya perjuangan Sultan Agung dalam memperluas kekuasaan Mataram. Penuh dengan strategi cerdas, pengepungan yang panjang, dan dampak dari wabah penyakit, upaya ini menegaskan kegigihan dan ketangguhan Sultan Agung serta pasukannya.
Dengan berhasilnya penaklukan Sukadana dan Madura, posisi Surabaya menjadi semakin lemah karena suplai pangan mereka terputus. Akibat kelaparan hebat, Surabaya akhirnya menyerah kepada Mataram di bawah kepemimpinan Pangeran Jayalengkara. Penyerahan ini dipimpin oleh Tumenggung Mangun Oneng.
Baca Juga: 3 Penguasa Pertama Kesultanan Mataram, Salah Satunya Mencapai Masa Keemasan
Setelah Surabaya jatuh ke tangan Mataram, Sultan Agung memperkuat aliansi dengan menikahkan putrinya, Pandansari, dengan Pangeran Pekik, putra Adipati Surabaya. Namun, pada tahun berikutnya, Kesultanan Mataram dilanda wabah penyakit yang mematikan, yang menewaskan dua pertiga penduduknya antara tahun 1625 dan 1627 M.
Kisah ini menggambarkan betapa rumit dan berdarahnya perjuangan Sultan Agung dalam memperluas kekuasaan Mataram. Penuh dengan strategi cerdas, pengepungan yang panjang, dan dampak dari wabah penyakit, upaya ini menegaskan kegigihan dan ketangguhan Sultan Agung serta pasukannya.
(hri)
Lihat Juga :