alexametrics

Cerita Pagi

Inilah Sisa Kenangan dan Kejayaan Dermaga Perak-Kamal

loading...
Inilah Sisa Kenangan dan Kejayaan Dermaga Perak-Kamal
KM Jokotole masih melayani penyeberangan Kamal-Perak yang menjadi saksi sejarah kebangkitan ekonomi di Pulau Jawa dan Madura.Foto/SINDOnews/Aan Haryono.
A+ A-
Tak ada yang lebih mahal dari bingkai sebuah kenangan. Di penyeberangan Tanjung Perak-Ujung Kamal, Jawa Timur (Jatim) banyak cerita berpendar.
Masa kejayaan yang telah pudar tak membuat gairah kehidupan di lambung kapal ikut pergi bersama angin kencang di selat Madura.
Pagi baru saja pergi ketika tumpukan kain dimasukan ke dalam Kapal Jokotole. Puluhan motor, empat mobil dan tiga truk ikut masuk dan menyesak di perut kapal. Pagi yang hangat di Perak Surabaya membuat keringat sudah bercucuran.

Dentuman musim dangdut pantura langsung menyambut. Mengalun indah sebagai persiapan penghalau angin. Suara cadasnya memaksa gerakan ritmik di kepala dan kaki. Di ujung pintu Kapal Jokotole, dua pedagang nasi khas Madura langsung menyambut. Tentu dengan aroma pedas sambal dan olahan ikan laut yang terasa legit, terbawa hembusan angin.

Satina (52), sudah menjual 15 bungkus nasi Madura ketika kapal sudah mulai beranjak dari dermaga. Selendang berwarna merah yang dipakai memanggul dijadikan alas duduk sementara di lantai kapal. melayani para pembeli yang keroncongan di pagi hari.



“Satu porsi saya jual Rp15 ribu. Lengkap dengan cumi dan babat sapi. Kalau mau irisan daging juga ada sama usus sapi,” kata Satina kepada sindonews.com belum lama ini.

Di samping Satina, deretan penjual rujak manis, rujak tolet dan rujak cinggur saling berhimpitan. Memaksa pandangan untuk sekedar mencicipi, petis udang dan terasi khas Madura menjadi andalan pelengkap deretan rujak yang dijajakan. Rasa rujak di kapal memang sudah tersohor, awet dalam rangkaian cerita puluhan tahun silam tentang masa keemasan Tanjung Perak dan Dermaga Kamal.

Naik di lantai satu Kapal Jokotole sweperti begitu gagah. Besinya tak terlihat uzur dengan berbagai ornamen yang dibuat di interior kapal. Tempat duduk yang masih mengkilap berjejar panjang menghadap layar televisi 42 inchi yang memutar lagu dangdut pantura.

Sebuah musala kecil berada di pinggir kiri kapal, lengkap dengan perangkat alat salat yang sengaja disediakan. Di depannya, deretan rombong makanan mulai dari gulai kambing, mie ayam, bakso sampai nasi rawon beradu ketajaman aroma untuk bisa menarik selera para penumpang.

Wardhana (45), memilih makan kikil sapi dengan irisan kecil lontong di atas kapal. duduk di deretan depan yang menghadap langsung ke bagian lambung kapal. beberapa suap kikil masuk ke mulutnya ia mencoba untuk berhenti sejenak. Pikirannya melompat jauh dalam kenangan ketika ayahnya dulu mengajaknya naik kapal penyeberangan Perak-Ujung Kamal.

“Suasananya masih sama. Saya sengaja naik kapal ini hanya untuk mencari kenangan kecil dulu,” jelannya.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak