Bung Karno Meracik Kemerdekaan Sejak di Peneleh
Senin, 17 Agustus 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: 2.694 ASN di Jatim Raih Tanda Kehormatan Satyalancana Karya )
Begitulah tiap malam. Dalam pekat kopi yang tersaji sampai pagi bersama dengan obrolan berbagai macam jenis tokoh yang ditemuinya di rumah Tjokroaminoto. Semuanya diserap, dibawanya masuk ke kamar gelap tanpa jendela dan pintu. Dimulainya petualangan kata yang mengelegar.
Kamarnya yang gelap selalu memunculkan pelita di hatinya. Soekarno muda sering berbicara di kamar yang sempit dengan Thomas Jefferson. “Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia, karena di bercerita kepada aku tentang declaration of independence yang ditulisnya di tahun 1776. Aku memperbincangkan dengan dia persoalan George Washinton. Aku mengalami lagi perjalanan Paul Revere. Aku dengan sengaja mencari-cara kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln, sehingga aku dapat mempersoalkan hal ini dengan dia,” katanya.
![Bung Karno Meracik Kemerdekaan Sejak di Peneleh]()
Racikan nasionalisme di dapur Surabaya benar-benar membentuk pemikiran Bung Karno. Dengan tegas Bung Karno menyebut pengaruh berbagai tokoh dalam membangun semangat kemerdekaan dalam dirinya. “Dalam dunia pemikiranku, aku pun berbicara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb yang memiliki gerakan buruh Inggris. Aku pun berhadapan muka dengan Mazzini, Cafour dan Garibaldi dari Italia,” katanya.
Pada kamar yang sempit itu, Soekarno membentuk dirinya menjadi singa podium. Sebuah cermin di kamar kos yang gelap tanpa lampu penerangan melatih Putra Sang Fajar untuk mengerakan ribuan massa melawan penjajah. Di depan cermin yang menempel di kamar kos Sukarno, tepatnya di bagian paling belakang rumah Tjokroaminoto telah menjadikan suara-suara perlawanan yang sampai kini masih terdengar nyaring di telinga bangsa Indonesia.
Begitulah tiap malam. Dalam pekat kopi yang tersaji sampai pagi bersama dengan obrolan berbagai macam jenis tokoh yang ditemuinya di rumah Tjokroaminoto. Semuanya diserap, dibawanya masuk ke kamar gelap tanpa jendela dan pintu. Dimulainya petualangan kata yang mengelegar.
Kamarnya yang gelap selalu memunculkan pelita di hatinya. Soekarno muda sering berbicara di kamar yang sempit dengan Thomas Jefferson. “Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia, karena di bercerita kepada aku tentang declaration of independence yang ditulisnya di tahun 1776. Aku memperbincangkan dengan dia persoalan George Washinton. Aku mengalami lagi perjalanan Paul Revere. Aku dengan sengaja mencari-cara kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln, sehingga aku dapat mempersoalkan hal ini dengan dia,” katanya.

Racikan nasionalisme di dapur Surabaya benar-benar membentuk pemikiran Bung Karno. Dengan tegas Bung Karno menyebut pengaruh berbagai tokoh dalam membangun semangat kemerdekaan dalam dirinya. “Dalam dunia pemikiranku, aku pun berbicara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb yang memiliki gerakan buruh Inggris. Aku pun berhadapan muka dengan Mazzini, Cafour dan Garibaldi dari Italia,” katanya.
Pada kamar yang sempit itu, Soekarno membentuk dirinya menjadi singa podium. Sebuah cermin di kamar kos yang gelap tanpa lampu penerangan melatih Putra Sang Fajar untuk mengerakan ribuan massa melawan penjajah. Di depan cermin yang menempel di kamar kos Sukarno, tepatnya di bagian paling belakang rumah Tjokroaminoto telah menjadikan suara-suara perlawanan yang sampai kini masih terdengar nyaring di telinga bangsa Indonesia.
Lihat Juga :