Bung Karno Meracik Kemerdekaan Sejak di Peneleh
Senin, 17 Agustus 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: HUT RI di Tengah Pandemi, MUI Ajak Teguhkan Komitmen Kebangsaan )
Alimin dan Muso juga satu rumah sama Bung Karno. Mereka merasakan betul gesekan intelektual dan gagasan gila kemerdekaan di gang Peneleh. Di kamar mereka, tumpukan buku-buku kiri memenuhi sudut ruangan. Kamar itu seketika menjadi dapur Marxis dan Hegelian. Keduanya pun memperkenalkan konsep pemikiran kiri dari buku-buku yang dibaca di kamar-kamar Peneleh. Soekarno sendiri dalam ceritanya sempat mengaku kalau dirinya dikenalkan pemikiran kiri oleh teman kosnya, Alimin.
“Aku pun berhadapan dengan Karl Marx, Friederich Engels, dan Lenin dari Rusia dan aku mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Prancis. Aku meneguk semua cerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnya adalah Voltaire. Aku adalah Danton, pejuang besar dari revolusi Perancis. Seribu kali aku menyelamatkan Perancis seorang diri dalam kamarku yang gelap,” kata Bung Karno.
Pada beberapa kesempatan, tokoh-tokoh Islam juga datang ke gang Peneleh. Menyempurnakan masakan nasionalisme Bung Karno di Surabaya. Mereka adalah Ahmad Dahlan yang jadi pendiri organisasi Muhammadiyah. Berbagai haluan garis perjuangan bermuara satu di rumah nomor 29-31 tersebut. Selain berdiskusi tentang perjuangan dan penjajahan, Tjokroaminoto juga membentuk forum dakwah Ta’mirul Ghofilin.
Forum diskusi tiap malam di Peneleh mampu menempa pemuda seperti Soekarno, Musso, Semaon, Alimin dan Kartosoewirjo. Jendela kecil di ruang tamu telah membuka mata para pemuda itu untuk berbicara lantang di depan moncong senjata. Soekarno menunjukan itu dengan perlawanan di atas podium, Musso mengerakan buruh kereta api untuk melawan Belanda, Alimin melakukan agitasi pada para petani untuk melawan demi kemakmuran.
Sebelum menulis Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, jauh sebelum itu darah Bung Karno sudah mendidih ketika memasak nasionalisme dalam dirinya. Mendengar jeritan rakyat dan membungkusnya dalam perlawanan pada para penjajah. Dari kamar kecil tanpa cahaya itu, Bung Karno melihat masa depan Indonesia.
Alimin dan Muso juga satu rumah sama Bung Karno. Mereka merasakan betul gesekan intelektual dan gagasan gila kemerdekaan di gang Peneleh. Di kamar mereka, tumpukan buku-buku kiri memenuhi sudut ruangan. Kamar itu seketika menjadi dapur Marxis dan Hegelian. Keduanya pun memperkenalkan konsep pemikiran kiri dari buku-buku yang dibaca di kamar-kamar Peneleh. Soekarno sendiri dalam ceritanya sempat mengaku kalau dirinya dikenalkan pemikiran kiri oleh teman kosnya, Alimin.
“Aku pun berhadapan dengan Karl Marx, Friederich Engels, dan Lenin dari Rusia dan aku mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Prancis. Aku meneguk semua cerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnya adalah Voltaire. Aku adalah Danton, pejuang besar dari revolusi Perancis. Seribu kali aku menyelamatkan Perancis seorang diri dalam kamarku yang gelap,” kata Bung Karno.
Pada beberapa kesempatan, tokoh-tokoh Islam juga datang ke gang Peneleh. Menyempurnakan masakan nasionalisme Bung Karno di Surabaya. Mereka adalah Ahmad Dahlan yang jadi pendiri organisasi Muhammadiyah. Berbagai haluan garis perjuangan bermuara satu di rumah nomor 29-31 tersebut. Selain berdiskusi tentang perjuangan dan penjajahan, Tjokroaminoto juga membentuk forum dakwah Ta’mirul Ghofilin.
Forum diskusi tiap malam di Peneleh mampu menempa pemuda seperti Soekarno, Musso, Semaon, Alimin dan Kartosoewirjo. Jendela kecil di ruang tamu telah membuka mata para pemuda itu untuk berbicara lantang di depan moncong senjata. Soekarno menunjukan itu dengan perlawanan di atas podium, Musso mengerakan buruh kereta api untuk melawan Belanda, Alimin melakukan agitasi pada para petani untuk melawan demi kemakmuran.
Sebelum menulis Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, jauh sebelum itu darah Bung Karno sudah mendidih ketika memasak nasionalisme dalam dirinya. Mendengar jeritan rakyat dan membungkusnya dalam perlawanan pada para penjajah. Dari kamar kecil tanpa cahaya itu, Bung Karno melihat masa depan Indonesia.
(msd)
Lihat Juga :