Minimarket Waralaba di NTT Harus Dibatasi
Jum'at, 15 Maret 2024 - 13:05 WIB
loading...
A
A
A
Dampaknya tak hanya pada pengusaha lokal, tapi juga seluruh masyarakat. Uang yang dibelanjakan di minimarket akan keluar dari daerah, bukannya berputar di dalam komunitas lokal. Hal ini memperparah kesenjangan ekonomi di NTT, wilayah kepulauan yang bergantung pada ekonomi lokal.
"NTT merupakan wilayah kepulauan yang kehidupanya bergantung terhadap ekonomi lokal. Artinya, apabila terus digerus dengan keberadaan minimarket waralaba, perkonomian daerah NTT akan semakin terpuruk," tegas William.
William tidak melarang keberadaan minimarket waralaba di NTT, namun ia menekankan pentingnya aturan tegas agar UMKM tradisional tidak tergilas.
"Ritel waralaba tersebut sebaiknya cukup ada dua atau tiga saja di setiap Ibu kota Kabupaten atau Kota yang ada di NTT. Jadi lapangan kerja tetap terbuka, perkonomian daerah tidak terganggu," pungkasnya.
"NTT merupakan wilayah kepulauan yang kehidupanya bergantung terhadap ekonomi lokal. Artinya, apabila terus digerus dengan keberadaan minimarket waralaba, perkonomian daerah NTT akan semakin terpuruk," tegas William.
William tidak melarang keberadaan minimarket waralaba di NTT, namun ia menekankan pentingnya aturan tegas agar UMKM tradisional tidak tergilas.
"Ritel waralaba tersebut sebaiknya cukup ada dua atau tiga saja di setiap Ibu kota Kabupaten atau Kota yang ada di NTT. Jadi lapangan kerja tetap terbuka, perkonomian daerah tidak terganggu," pungkasnya.
(hri)
Lihat Juga :