Kritik Presiden Jokowi, EM Universitas Brawijaya: Bukan Tidak Mungkin Reformasi Jilid II Akan Terjadi
Jum'at, 02 Februari 2024 - 14:26 WIB
loading...
A
A
A
"Hal tersebut lantaran mempertahankan statusnya sebagai pejabat negara dianggap tidak etis. Namun di sisi lain, ketika meninggalkan jabatannya sebagai Menko Polhukam, Mahfud Md akan membiarkan kekuasaan semakin mengabaikan nilai-nilai etis," ujar Rafly, melalui keterangan tertulisnya kepada wartawan, pada Jumat (2/2/2024).
Baca juga: Giliran Akademisi UII Kritik Jokowi, Ingatkan Tak Gunakan Kekuasaan untuk Kepentingan Politik
Menurut Rafly, pernyataan ini tidak terlepas dari problematika hukum yang belakangan terjadi di kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Lembaga negara yang bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pengawasan, serta penegakan hukum selama Pemilu, telah kehilangan fungsinya. Jokowi juga dianggap mempermainkan hukum, dengan mengatakan dirinya memiliki hak kampanye.
"Jokowi dan para pembisiknya tidak tahu cara membaca undang-undang. Setiap hari penuh blunder dan klarifikasi," sebut Rafly.
Ia menegaskan, mundurnya Mahfud MD dari jabatan Menkopolhukam membuat sinyal kekuasaan yang sulit dikontrol oleh hukum. Maka tak mungkin bila hal ini terjadi, pihaknya mendorong mahasiswa, akademisi, dan masyarakat Indonesia yang masih sadar untuk bergerak.
Baca juga: Giliran Akademisi UII Kritik Jokowi, Ingatkan Tak Gunakan Kekuasaan untuk Kepentingan Politik
Menurut Rafly, pernyataan ini tidak terlepas dari problematika hukum yang belakangan terjadi di kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Lembaga negara yang bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pengawasan, serta penegakan hukum selama Pemilu, telah kehilangan fungsinya. Jokowi juga dianggap mempermainkan hukum, dengan mengatakan dirinya memiliki hak kampanye.
"Jokowi dan para pembisiknya tidak tahu cara membaca undang-undang. Setiap hari penuh blunder dan klarifikasi," sebut Rafly.
Ia menegaskan, mundurnya Mahfud MD dari jabatan Menkopolhukam membuat sinyal kekuasaan yang sulit dikontrol oleh hukum. Maka tak mungkin bila hal ini terjadi, pihaknya mendorong mahasiswa, akademisi, dan masyarakat Indonesia yang masih sadar untuk bergerak.
Lihat Juga :