Kemarau, 15 Desa di Lereng Gunung Slamet Krisis Air Bersih
Selasa, 11 Agustus 2020 - 10:45 WIB
loading...
A
A
A
Untuk memenuhi kebutuhan air, warga terpaksa harus antre di bak-bak penampungan air yang sudah minim isinya. Mereka harus menunggu dua sampai tiga jam guna memperoleh dua jeriken atau ember, air bersih tersebut.
"Kami sudah lebih dari dua bulan kesulitan air bersih, setiap hari harus antre di bak penampungan yang airnya sudah minim. Bantuan dari BPBD atau yang lain yang mainim dan tidak mencukupi kebutuhan,” jelas Witri, warga Gunungsari.
Selain itu mereka juga bergantung pada bantuan yang diberikan pemerintah daerah melalui BPBD dan sejumlah lemabaga yang membantu atau para relawan juga derawan. "Jika tak ada bantuan, kami mendapatkan air bersih dari penjual keliling dengan harga Rp 60 ribu setiap sekitar 1000 liternya," jelas Harto, warga Pulosari. (Baca: Terpeleset di Gunung Sindoro, Pendaki Asal Solo Berhasil Diselamatkan).
Krisis air bersih memang menjadi kondisi tahunan yang harus selalu mereka hadapi karena secara geografis memang daerah mereka berada di kaki gunung Slamet.
"Kami sudah lebih dari dua bulan kesulitan air bersih, setiap hari harus antre di bak penampungan yang airnya sudah minim. Bantuan dari BPBD atau yang lain yang mainim dan tidak mencukupi kebutuhan,” jelas Witri, warga Gunungsari.
Selain itu mereka juga bergantung pada bantuan yang diberikan pemerintah daerah melalui BPBD dan sejumlah lemabaga yang membantu atau para relawan juga derawan. "Jika tak ada bantuan, kami mendapatkan air bersih dari penjual keliling dengan harga Rp 60 ribu setiap sekitar 1000 liternya," jelas Harto, warga Pulosari. (Baca: Terpeleset di Gunung Sindoro, Pendaki Asal Solo Berhasil Diselamatkan).
Krisis air bersih memang menjadi kondisi tahunan yang harus selalu mereka hadapi karena secara geografis memang daerah mereka berada di kaki gunung Slamet.
(nag)
Lihat Juga :