Kisah Campur Tangan Belanda Tunjuk Mas Tumenggung Jogokaryo Jadi Bupati Pacitan
Rabu, 20 Desember 2023 - 17:22 WIB
loading...
A
A
A
Dalam Babad Patjitan, Poncogomo saat ditanya menyatakan siap mempertahankan dirinya dari kemungkinan perlawanan Bupati Setrowijoyo II. Dia tidak akan mundur sejengkal pun dari posisinya.
“Tak lama setelah peristiwa ini, Belanda mengirimkan sepucuk surat yang menyatakan bahwa Setrowijoyo II dilepaskan dari jabatannya sebagai bupati dan menunjuk Poncogomo sebagai penggantinya dengan gelar Mas Tumenggung Jogokaryo”.
Ramalan Ki Buwono Keling yang diucapkan jelang kematiannya telah terbukti. Joyoniman alias Poncogomo alias Kiai Jimat alias Mas Tumenggung Jogokaryo, putranya telah menjadi penguasa Pacitan.
Kelak anak ketiga Joyoniman, yakni Mas Karyodipuro juga menjadi Bupati Pacitan.
Disebutkan dalam Babad Patjitan, sosok Jogokaryo digambarkan berkulit kuning, berbulu serta memiliki keberanian lebih. Bupati baru Pacitan itu lebih mampu melayani kepentingan Belanda.
Hubungan Bupati Jogokaryo dengan kolonial Belanda lebih harmonis. Kemampuan Jogokaryo mengerahkan penduduk untuk menanam lebih banyak kopi mendapat banyak pujian.
“Dengan demikian, berakhirlah perjumpaan pertama Pacitan dengan kolonialisme,” demikian dikatakan sejarawan Ong Hok Ham dalam Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priyayi dan Petani di Karesidenan Madiun Abad XIX.
“Tak lama setelah peristiwa ini, Belanda mengirimkan sepucuk surat yang menyatakan bahwa Setrowijoyo II dilepaskan dari jabatannya sebagai bupati dan menunjuk Poncogomo sebagai penggantinya dengan gelar Mas Tumenggung Jogokaryo”.
Ramalan Ki Buwono Keling yang diucapkan jelang kematiannya telah terbukti. Joyoniman alias Poncogomo alias Kiai Jimat alias Mas Tumenggung Jogokaryo, putranya telah menjadi penguasa Pacitan.
Kelak anak ketiga Joyoniman, yakni Mas Karyodipuro juga menjadi Bupati Pacitan.
Disebutkan dalam Babad Patjitan, sosok Jogokaryo digambarkan berkulit kuning, berbulu serta memiliki keberanian lebih. Bupati baru Pacitan itu lebih mampu melayani kepentingan Belanda.
Hubungan Bupati Jogokaryo dengan kolonial Belanda lebih harmonis. Kemampuan Jogokaryo mengerahkan penduduk untuk menanam lebih banyak kopi mendapat banyak pujian.
“Dengan demikian, berakhirlah perjumpaan pertama Pacitan dengan kolonialisme,” demikian dikatakan sejarawan Ong Hok Ham dalam Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priyayi dan Petani di Karesidenan Madiun Abad XIX.
(ams)
Lihat Juga :