Kisah Sekanak, Kampung Bangsawan hingga Pusat Perdagangan
Senin, 10 Agustus 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Ada Gedung Jacobson van den Berg, perkantoran dan pergudangan yang dikelola perusahaan perdagangan milik Belanda.
Di dalam gedung ini terdapat ruangan brankas yang mungkin tempat penyimpanan barang berharga dan uang dalam jumlah besar. Komoditi andalan Sumsel diperdagangkan melalui gudang ini, terutama kopi dan karet ada juga batu bara.
Jejeran bangunan toko lama yang mengesankan suasana khas masa lampau masih berdiri hingga kini, namun memang ada bagian yang terlihat butuh perbaikan.
Di bagian tidak jauh dari jembatan Sekanak masih berdiri pasar tradisional darat tertua. Pasar ini nadinya menyatu dengan aktivitas kapal barang di Sungai Musi, yang masih terlihat hingga kini.
Walaupun tidak lagi seramai dahulu, sebagian warga masih mencari dan membeli kebutuhan di tempat ini. “Tidak seramai dahulu lagi, tapi masih ada pasar. Bongkar muat dari kapal,” ujar Rahayu, pedagang yang mewarisi warung kopi orang tuanya.
Bagi Rahayu dan sejumlah pedagang serta warga di sekitar, Sekanak bukan sebatas sejarah untuk dikenang, namun adalah kehidupan yang akan terus hidup.
“Dari zaman Sultan, penjajah, sampai pemerintah Indonesia saat ini terus berubah penguasa dan pengusaha, tapi tempat (Sekanak) masih seperti ini, bangunannya, aktivitasnya walau tidak ramai, ada yang di Sungai,” katanya.
Di dalam gedung ini terdapat ruangan brankas yang mungkin tempat penyimpanan barang berharga dan uang dalam jumlah besar. Komoditi andalan Sumsel diperdagangkan melalui gudang ini, terutama kopi dan karet ada juga batu bara.
Jejeran bangunan toko lama yang mengesankan suasana khas masa lampau masih berdiri hingga kini, namun memang ada bagian yang terlihat butuh perbaikan.
Di bagian tidak jauh dari jembatan Sekanak masih berdiri pasar tradisional darat tertua. Pasar ini nadinya menyatu dengan aktivitas kapal barang di Sungai Musi, yang masih terlihat hingga kini.
Walaupun tidak lagi seramai dahulu, sebagian warga masih mencari dan membeli kebutuhan di tempat ini. “Tidak seramai dahulu lagi, tapi masih ada pasar. Bongkar muat dari kapal,” ujar Rahayu, pedagang yang mewarisi warung kopi orang tuanya.
Bagi Rahayu dan sejumlah pedagang serta warga di sekitar, Sekanak bukan sebatas sejarah untuk dikenang, namun adalah kehidupan yang akan terus hidup.
“Dari zaman Sultan, penjajah, sampai pemerintah Indonesia saat ini terus berubah penguasa dan pengusaha, tapi tempat (Sekanak) masih seperti ini, bangunannya, aktivitasnya walau tidak ramai, ada yang di Sungai,” katanya.
Lihat Juga :