alexa snippet

Cerita Pagi

Lafran Pane, Putera Tapsel Pahlawan Kebanggaan HMI

Lafran Pane, Putera Tapsel Pahlawan Kebanggaan HMI
Lafran Pane. Foto/IST
A+ A-
BANGSA yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya. Demikian isi pidato Presiden RI pertama Soekarno saat memperingati Hari Pahlawan, 10 November 1961.

Cerita Pagi kali ini kita masih mengangkat tema pahlawan karena banyaknya tokoh pahlawan di Indonesia yang perlu diketahui publik. Setidaknya, kisah dan perjuangan mereka bisa menjadi motivasi dan pelajaran berharga bagi generasi muda Indonesia.

Belum lama ini, Kamis (9/11/2017), Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi gelar Pahlawan Nasional kepada empat tokoh di Istana Negara, Jakarta. Pemberian gelar ini berdasarkan Keputusan Presiden RI nomor 115/TK/Tahun 2017 per tanggal 6 November tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Keempat tokoh itu adalah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Masjid dari NTB; Laksamana Malahayati dari Aceh; Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepulauan Riau; dan Lafran Pane dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ada yang menarik dari pengangkatan Pahlawan Nasional kali ini. Adalah sosok Lafran Pane yang diangkat menjadi pahlawan bukan karena keterlibatannya di medan perang. Akan tetapi karena kiprahnya di dunia pendidikan dan jasanya yang menggaungkan organisasi kemahasiswaan dan keislaman di Tanah Air.

Prof Drs H Lafran Pane dikenal sebagai tokoh pemrakarsa dan pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang melahirkan banyak sumber daya manusia (SDM) terbaik di negeri ini. Tak hanya itu, Lafran juga punya andil besar terhadap lahirnya proklamasi. Dia juga disegani karena pemikiran dan gagasannya terhadap kemajuan Islam.

Lafran Pane lahir di Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara pada 5 Februari 1922. Namun, berbagai tulisan menyebutnya lahir 12 April 1923 di Kampung Pangurabaan, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), sekitar 38 kilometer arah utara Kota Padangsidimpuan.

Lafran Pane memang lahir dan besar di Tapanuli Selatan. Namun, pemerintah mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) karena ia berkiprah dan berkarya di daerah tersebut.

Lafran Pane wafat pada tanggal 24 Januari 1991. Namun, publik akhirnya tahu setelah kematiannya ternyata Lafran Pane lahir 5 Februari 1922, bukan 12 April 1922 seperti yang kerap digunakannya dalam catatan resmi.

Lafran Pane adalah anak keenam dari keluarga Sutan Pangurabaan Pane dari istrinya yang pertama. Lafran bungsu dari enam bersaudara yaitu: Nyonya Tarib, Sanusi Pane, Armijn Pane, Nyonya Bahari Siregar, Nyonya Hanifiah, Lafran Pane.

Ayahnya adalah seorang guru pengajar sekaligus seniman Batak Mandailing di Muara Sipongi, Mandailing Natal. Keluarga Lafran Pane juga merupakan keluarga sastrawan yang banyak menulis karya novel. Seperti dua kakak kandungnya Sanusi Pane dan Armijn Pane yang merupakan sastrawan dan pujangga terkenal di Indonesia.

Ayahnya Sutan Pangurabaan Pane, salah seorang pendiri Muhammadiyah di Sipirok pada 1921. Sedangkan Kakeknya adalah seorang ulama bernama Syekh Badurrahman Pane. Tak heran jika pendidikan agamanya didapat sebelum memasuki sekolah formal.

Riwayat pendidikan Lafran Pane diketahui sering berpindah-pindah sekolah. Dia sekolah pertama kali di Pesantren Muhammadiyah Sipirok hingga akhirnya meneruskan sekolah kelas 7 di HIS Muhammadiyah. Kemudian menyambung ke Taman Dewasa Raya Jakarta. Saat itu, ibukota pindah ke Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang semula di Jakarta juga ikut pindah ke Yogyakarta.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top