Akibat COVID-19, Warga Woedoa NTT Makan Ubi Hutan Beracun
Kamis, 30 April 2020 - 11:04 WIB
loading...
Pandemi COVID-19 membuat warga Desa Woedoa, Nangaroro, Nagekeo, NTT mengalami kesulitan perekonomian. Mereka terpaksa makan ubi beracun karena tak punya beras. Foto/iNews TV/Joni Nura
A
A
A
NAGEKEO - Pandemi COVID-19 membuat warga Desa Woedoa, Nangaroro, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kesulitan perekonomian. Mereka terpaksa makan ubi beracun karena tak punya beras.
Selama 3 minggu masyarakat di Desa Woedoa terpaksa memakan ondo, sejenis ubi hutan beracun karena tidak memiliki beras. Sementara untuk mendapatkan ubi itu warga mencarinya di hutan.
"Akibat dari wabah COVID-19, warga di sini sudah tiga minggu makan ondo, karena masyarakat tidak lagi bisa beli beras. Karena mau beli beras uang tidak ada. Kalau hewan peliharaan seperti ayam, kambing dan babi ada. Tapi mau jual tidak ada yang beli," kata Herman Pera, warga Woedoa, Rabu (30/4/2020).
Herman yang merupakan mantan staf Desa Woedoa memaparkan, dia dan warga setempat terpaksa makan ondo karena tidak ada lagi makanan yang tersisa di rumah. Jagung yang ditanam mengalami gagal panen.
Saat ini situasi di wilayah desa itu pada siang hari terlihat sepi karena hampir semua warga masuk hutan untuk mencari ubi hutan beracun. Ubi ondo merupakan salah satu ubi hutan yang beracun.
Sebelum dikonsumsi butuh pengolahan yang baik dan benar agar racunnya bisa hilang. "Agar ubi ondo bisa dimakan dengan aman, harus diolah dengan penuh kesabaran dan memakan waktu beberapa hari," ujarnya.
Herman menjelaskan, sebelum ubi ondo terlebih dahulu harus dikuliti dulu, lalu iris berbentuk lempeng.
Selama 3 minggu masyarakat di Desa Woedoa terpaksa memakan ondo, sejenis ubi hutan beracun karena tidak memiliki beras. Sementara untuk mendapatkan ubi itu warga mencarinya di hutan.
"Akibat dari wabah COVID-19, warga di sini sudah tiga minggu makan ondo, karena masyarakat tidak lagi bisa beli beras. Karena mau beli beras uang tidak ada. Kalau hewan peliharaan seperti ayam, kambing dan babi ada. Tapi mau jual tidak ada yang beli," kata Herman Pera, warga Woedoa, Rabu (30/4/2020).
Herman yang merupakan mantan staf Desa Woedoa memaparkan, dia dan warga setempat terpaksa makan ondo karena tidak ada lagi makanan yang tersisa di rumah. Jagung yang ditanam mengalami gagal panen.
Saat ini situasi di wilayah desa itu pada siang hari terlihat sepi karena hampir semua warga masuk hutan untuk mencari ubi hutan beracun. Ubi ondo merupakan salah satu ubi hutan yang beracun.
Sebelum dikonsumsi butuh pengolahan yang baik dan benar agar racunnya bisa hilang. "Agar ubi ondo bisa dimakan dengan aman, harus diolah dengan penuh kesabaran dan memakan waktu beberapa hari," ujarnya.
Herman menjelaskan, sebelum ubi ondo terlebih dahulu harus dikuliti dulu, lalu iris berbentuk lempeng.
Lihat Juga :