Kisah Kiai Taptojani, Ulama Sepuh di Balik Perjuangan Pangeran Diponegoro
Minggu, 08 Oktober 2023 - 06:12 WIB
loading...
Pangeran Diponegoro versi AI. Foto/Instagram @ainusantara
A
A
A
Nama Kiai Taptojani mungkin tak begitu dikenal di momen perjuangan Pangeran Diponegoro . Sosoknya tak bisa dilepaskan dari Pangeran Diponegoro yang tumbuh di lingkungan agamis dengan mayoritas pemeluk Islam.
Sejak kecil Pangeran Diponegoro kerap kali berbaur dengan kelompok santri. Kelompok santri yang bernama Korps Suranatan, yang merupakan kelompok keagamaan bersenjata di Istana Yogyakarta, misalnya merupakan bagian dari kesatuan militer di Kadipaten (Putra Mahkota).
Di sana ada juga para warga kaum komunitas islam yang kuat, juga menerima zakat dari istana yang terdaftar dalam catatan keraton, sebagai penghuni Kadipaten dan Tegalrejo, pada akhir 1790-an. Nenek buyutnya Ratu Ageng telah mendorong para tokoh agama di Yogyakarta, untuk mengunjungi dan mengambil tempat tinggal di Tegalrejo, tempat lingkungan Diponegoro tinggal.
Dikisahkan pada buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855" tulisan Peter Carey, diceritakan penghulu Kiai Muhammad Bahwi, yang kemudian dikenal dalam Perang Jawa sebagai Muhammad Ngusman Ali Basah, sebelumnya mengabdi sebagai ketua forum ulama Masjid Suranatan, masjid pribadi sultan.
Baca Juga: Kisah Pangeran Diponegoro dan Karomah Para Kiai Kharismatik
Sejak kecil Pangeran Diponegoro kerap kali berbaur dengan kelompok santri. Kelompok santri yang bernama Korps Suranatan, yang merupakan kelompok keagamaan bersenjata di Istana Yogyakarta, misalnya merupakan bagian dari kesatuan militer di Kadipaten (Putra Mahkota).
Di sana ada juga para warga kaum komunitas islam yang kuat, juga menerima zakat dari istana yang terdaftar dalam catatan keraton, sebagai penghuni Kadipaten dan Tegalrejo, pada akhir 1790-an. Nenek buyutnya Ratu Ageng telah mendorong para tokoh agama di Yogyakarta, untuk mengunjungi dan mengambil tempat tinggal di Tegalrejo, tempat lingkungan Diponegoro tinggal.
Dikisahkan pada buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855" tulisan Peter Carey, diceritakan penghulu Kiai Muhammad Bahwi, yang kemudian dikenal dalam Perang Jawa sebagai Muhammad Ngusman Ali Basah, sebelumnya mengabdi sebagai ketua forum ulama Masjid Suranatan, masjid pribadi sultan.
Baca Juga: Kisah Pangeran Diponegoro dan Karomah Para Kiai Kharismatik
Lihat Juga :