Kisah Pahit Ribuan Prajurit TNI yang Terpaksa Menjadi Pengangguran Akibat Kebijakan ReRa Bung Hatta
Jum'at, 06 Oktober 2023 - 16:37 WIB
loading...
A
A
A
Program ReRa yang dilakukan Bung Hatta, menyasar para tentara yang berasal dari laskar-laskar atau TNI masyarakat. Di Jawa Timur, para tentara itu belum lama pulang dari medan tempur 10 November 1945 Surabaya.
Salah satunya adalah Kusni Kasdut, tentara Laskar yang berangkat dari Malang. Kusni Kasdut yang terkena ReRA kelak memilih jalan menjadi penjahat, dan berakhir dengan hukuman mati.
Baca juga: Sadis! Wanita Muda di Surabaya Tewas Dianiaya usai Dugem, Pelaku Diduga Anak Anggota DPR
Di Blitar, sejumlah pimpinan Laskar Hizbullah mengungkapkan kekecewaannya. Mereka yang terkena rasionalisasi, termasuk diturunkan pangkatnya menyatakan diperlakukan tidak adil oleh negara.
Hatta menegaskan program ReRa harus dilaksanakan. Sebagai perdana menteri sekaligus menteri pertahanan, ia melihat jumlah angkatan perang yang dimiliki republik terlalu besar. Selain tidak efektif, jumlah tentara yang ada telah membebani keuangan negara.
"Dengan memperkecil angkatan perang, kemudian menyusunnya (melalui reorganisasi tentara), Hatta percaya bahwa efektivitas mereka akan bertambah. Prinsip people's defence tetap dijalankan," demikian dikutip dari buku "Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan" (1997).
Oleh Hatta, ribuan tentara yang tergusur program ReRa dikembalikan ke pekerjaan lamanya. Yang semula guru kembali mengajar. Begitu juga yang awalnya bekerja di bidang swasta, kembali ke pekerjaan lamanya.
Hatta menyerahkan ribuan bekas tentara itu kepada Kementerian Pembangunan dan Pemuda, untuk dimanfaatkan lebih lanjut. Kemudian juga mengembalikan ribuan orang itu ke pemerintah desa. "Mengembalikan seratus ribu orang ke dalam masyarakat desa".
Baca juga: 2 Pria di Bangkalan Bertekuk Lutut usai Diajak Kencan Polwan Cantik
Salah satunya adalah Kusni Kasdut, tentara Laskar yang berangkat dari Malang. Kusni Kasdut yang terkena ReRA kelak memilih jalan menjadi penjahat, dan berakhir dengan hukuman mati.
Baca juga: Sadis! Wanita Muda di Surabaya Tewas Dianiaya usai Dugem, Pelaku Diduga Anak Anggota DPR
Di Blitar, sejumlah pimpinan Laskar Hizbullah mengungkapkan kekecewaannya. Mereka yang terkena rasionalisasi, termasuk diturunkan pangkatnya menyatakan diperlakukan tidak adil oleh negara.
Hatta menegaskan program ReRa harus dilaksanakan. Sebagai perdana menteri sekaligus menteri pertahanan, ia melihat jumlah angkatan perang yang dimiliki republik terlalu besar. Selain tidak efektif, jumlah tentara yang ada telah membebani keuangan negara.
"Dengan memperkecil angkatan perang, kemudian menyusunnya (melalui reorganisasi tentara), Hatta percaya bahwa efektivitas mereka akan bertambah. Prinsip people's defence tetap dijalankan," demikian dikutip dari buku "Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan" (1997).
Oleh Hatta, ribuan tentara yang tergusur program ReRa dikembalikan ke pekerjaan lamanya. Yang semula guru kembali mengajar. Begitu juga yang awalnya bekerja di bidang swasta, kembali ke pekerjaan lamanya.
Hatta menyerahkan ribuan bekas tentara itu kepada Kementerian Pembangunan dan Pemuda, untuk dimanfaatkan lebih lanjut. Kemudian juga mengembalikan ribuan orang itu ke pemerintah desa. "Mengembalikan seratus ribu orang ke dalam masyarakat desa".
Baca juga: 2 Pria di Bangkalan Bertekuk Lutut usai Diajak Kencan Polwan Cantik
Lihat Juga :