Kisah Mengerikan Evakuasi Korban G30S PKI Bikin Pasukan Sarwo Edhie Wibowo Keracunan Gas

Rabu, 27 September 2023 - 10:44 WIB
loading...
Kisah Mengerikan Evakuasi...
Presiden Soeharto bersama Jenderal Sarwo Edhie Wibowo menumpas pasukan PKI. Foto/Istimewa
A A A
Puncak Gerakan 30 September 1965 atau G30S PK I adalah menghabisi sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat (AD) yang dianggap sebagai Dewan Jenderal. Dewan Revolusi dipimpin Letkol Untung Sutopo, para perwira tinggi AD itu diculik dan dibunuh.

Keberingasan PKI tak hanya disitu saja, jenazahnya diceburkan ke dalam sumur Lubang Buaya, Jakarta. Mereka dihabisi lantaran dianggap sebagai Dewan Jenderal istilah Dewan Revolusi untuk menyebut sejumlah perwira tinggi AD yang tidak loyal kepada Presiden Soekarno.

Hingga 1 Oktober 1965, Dewan Revolusi merasa menang. Namun situasi dalam sekejap berubah. Serangan pasukan RPKAD yang dipimpin Sarwo Edhie Wibowo berhasil membalikkan keadaan. Pasukan Dewan Revolusi dipukul mundur.

Baca Juga: 3 Pondok Pesantren yang Pernah Menjadi Korban Kekejaman PKI

Stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) yang sebelumnya mereka kuasai, berhasil direbut. Pada 3 Oktober 1965, Lubang Buaya ditemukan. Melihat pasukan RPKAD mendekat, orang-orang Pemuda Rakyat dan Gerwani yang berada di sekitar Lubang Buaya pada memilih kabur.

“Lubang tersebut adalah sumur tua yang berjarak tiga meter dari sebuah rumah yang dihuni seorang guru aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI),” demikian dikutip dari buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran, Sejak Nusantara sampai Indonesia (2014).

Lubang Buaya berdiameter 3/4 meter dengan kedalaman 10 meter. Keberadaan sumur tua itu oleh orang-orang PKI dikamuflase. Agar tidak mudah ditemukan, kedalaman Lubang Buaya ditimbuni sampah kering, batang pohon pisang, daun singkong serta tanah berselang seling.

Baca Juga: Sandi Senam Revolusi dan Ibu Pertiwi Hamil Tua, Misteri G30S PKI yang Belum Terungkap

Oleh tentara, Lubang Buaya langsung dibongkar. Kendati demikian tidak mudah mengevakuasi jenazah para perwira tinggi AD. Karena kendala teknis, evakuasi jenazah baru bisa dilakukan pada 4 Oktober 1965.

Proses evakuasi melibatkan pasukan Kesatuan Intai Para Amphibi (Kipam) Marinir. Ruang sempit dan dalamnya Lubang Buaya membuat proses evakuasi jenazah tidak mudah dan sempat terhenti.

Dilansir dari catatan Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran Sejak Nusantara sampai Indonesia, pada awal proses evakuasi banyak petugas yang kehilangan kesadaran karena terpapar gas beracun. “Banyak petugas yang pingsan akibat gas beracun di dalam sumur”.

Baca Juga: Nyanyian Tokoh PKI Nyono Buka Tabir Misteri Gerakan 30 September 1965

Agar tidak kembali keracunan, tim evakuasi menyiapkan masker, aqualung, dan ICAM 48. Seluruh tim menggunakan sistem adaptasi, yakni mengambil napas dan udara pada setiap selang jarak tertentu dengan dibantu masker.

Diputuskan evakuasi jenazah menggunakan tali, yakni jenazah diikat dan kemudian ditarik ke atas. Pada pukul 13.40 WIB pada 4 Oktober 1965, seluruh jenazah perwira tinggi AD korban G30S PKI berhasil diangkat dari Lubang Buaya.

Para pahlawan revolusi tersebut adalah Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal Suprapto, Letnan Jenderal S. Parman, Letnan Jenderal M.T Haryono, Mayjen D.I Panjaitan, Brigjen Sutoyo, dan Kapten Pierre Tendean.

Pasca peristiwa G30S PKI, para pimpinan, kader dan seluruh simpatisan PKI diburu dan ditangkap. Ketua CC PKI DN Aidit, Njoto dan Letkol Untung Sutopo dieksekusi mati. Pada 12 Maret 1966 PKI secara resmi dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Meritokrasi di TNI,...
Meritokrasi di TNI, Kapuspen: Jabatan Tak Ditentukan seperti Urut Kacang Tapi Kompetensi
Kunjungi Yonif TP 861,...
Kunjungi Yonif TP 861, Sjafrie Minta Prajurit TNI Jaga Hubungan Baik dengan Warga Papua
Menhan Targetkan 2026...
Menhan Targetkan 2026 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan Ada di Seluruh Kabupaten di Jawa
Rekomendasi
Program CID Pertamina...
Program CID Pertamina Patra Niaga Ubah Tantangan Lokal Jadi Peluang Usaha
Jerman vs Paraguay:...
Jerman vs Paraguay: Menanti 3 Rekor Der Panzer
5 Calon Manajer Kopdes...
5 Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal, Kemhan Ganti Nama Latsarmil
Berita Terkini
Pramono Bakal Bangun...
Pramono Bakal Bangun 11 Rusun Baru Pakai APBD, Ini Lokasinya
Polisi Ungkap Alasan...
Polisi Ungkap Alasan Pelaku Sekap 3 Karyawan Percetakan, Tuduh Korban Curi Pelat Rp230 Juta
Akademisi: Riset Advokasi...
Akademisi: Riset Advokasi Kunci Perlindungan Warga Sipil
Kepala UPTD Diciptabintar...
Kepala UPTD Diciptabintar Pemkot Bandung Dorong Penegakan Aturan Pemanfaatan Ruang
JKF Fun Padel Competition...
JKF Fun Padel Competition 2026 Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Instansi di Jakarta
Isak Tangis Keluarga...
Isak Tangis Keluarga Kecelakaan Maut di Bekasi Timur: Saya Nggak Kuat Anaknya Masih Kecil
Infografis
Kisah Jenderal Hoegeng...
Kisah Jenderal Hoegeng Menyamar Jadi Hippies, Turun Langsung Bongkar Narkoba
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved