Inilah 13 Nama Raja Majapahit dari Awal Berdiri hingga Masa Keruntuhan
loading...
A
A
A
Hayam Wuruk memimpin kerajaan dengan bijaksana dan adil sehingga ia dikenal sebagai raja yang sangat disegani oleh rakyatnya. Ia juga dikenal sebagai raja yang sangat pandai dalam bidang diplomasi sehingga mampu menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangga.
Wikramawardhana putra kesayangan Raja Hayam Wuruk dari permaisuri Paduka Sori. Dalam riwayatnya, dia menggantikan ayahnya menjadi raja dan memerintah Majapahit sejak tahun 1389 hingga 1429 Masehi.
Saat menjadi raja, Wikramawardhana menghadapi pemberontakan dari Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari selirnya Indreswari, yang mengklaim hak atas tahta Majapahit. Pemberontakan ini dikenal sebagai Perang Paregreg dan berlangsung selama 12 tahun.
Meski demikian, Wikramawardhana sendiri lebih dikenal sebagai raja yang bijaksana dan pandai dalam bidang diplomasi. Ia juga dikenal sebagai raja yang sangat mencintai seni dan budaya.
Selanjutnya ada Raja Suhita. Raja yang satu ini merupakan anak Wikramawardhana dari permaisuri Srengganawati. Ia menjadi raja Majapahit setelah ayahnya meninggal karena wabah pes.
Ketika menjadi pemimpin Majapahit, menghadapi ancaman dari Kerajaan Blambangan yang berusaha melepaskan diri dari pengaruh Majapahit. Ia juga mengirimkan utusan ke Cina untuk menjalin hubungan dagang.
Sementara itu, Suhita dikenal sebagai sosok yang pendendam dan memberikan hukuman penggal kepada Raden Gajah (Bhra Narapati). Selama memimpin, Sri Suhita didampingi oleh suaminya, Bhra Hyang Parameswara Ratna Pangkaja.
Kertawijaya adalah raja ketujuh Kerajaan Majapahit yang memerintah dari tahun 1447 hingga 1451 Masehi. Ia adalah adik bungsu dari Ratu Suhita, raja sebelumnya. Sebelum menjadi raja, Kertawijaya pernah menjadi Bhre Tumapel, yaitu menggantikan kakaknya yang meninggal awal tahun 1427.
Kertawijaya naik takhta menggantikan Suhita pada tahun 1447. Pada masa pemerintahannya, sering terjadi gempa bumi dan gunung meletus. Juga terjadi peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, yaitu Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel.
Selain itu, Kerawijaya juga berusaha memperbaiki hubungan dengan Kerajaan Blambangan yang sempat bermusuhan dengan Suhita. Di sisi lain, ia juga menghadapi serangan dari Kerajaan Demak yang mulai menunjukkan kekuatannya.
5. Wikramawardhana (1389-1429 M)
Wikramawardhana putra kesayangan Raja Hayam Wuruk dari permaisuri Paduka Sori. Dalam riwayatnya, dia menggantikan ayahnya menjadi raja dan memerintah Majapahit sejak tahun 1389 hingga 1429 Masehi.
Saat menjadi raja, Wikramawardhana menghadapi pemberontakan dari Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari selirnya Indreswari, yang mengklaim hak atas tahta Majapahit. Pemberontakan ini dikenal sebagai Perang Paregreg dan berlangsung selama 12 tahun.
Meski demikian, Wikramawardhana sendiri lebih dikenal sebagai raja yang bijaksana dan pandai dalam bidang diplomasi. Ia juga dikenal sebagai raja yang sangat mencintai seni dan budaya.
6. Suhita (1429-1447 M)
Selanjutnya ada Raja Suhita. Raja yang satu ini merupakan anak Wikramawardhana dari permaisuri Srengganawati. Ia menjadi raja Majapahit setelah ayahnya meninggal karena wabah pes.
Ketika menjadi pemimpin Majapahit, menghadapi ancaman dari Kerajaan Blambangan yang berusaha melepaskan diri dari pengaruh Majapahit. Ia juga mengirimkan utusan ke Cina untuk menjalin hubungan dagang.
Sementara itu, Suhita dikenal sebagai sosok yang pendendam dan memberikan hukuman penggal kepada Raden Gajah (Bhra Narapati). Selama memimpin, Sri Suhita didampingi oleh suaminya, Bhra Hyang Parameswara Ratna Pangkaja.
7. Kertawijaya (1447-1451 M)
Kertawijaya adalah raja ketujuh Kerajaan Majapahit yang memerintah dari tahun 1447 hingga 1451 Masehi. Ia adalah adik bungsu dari Ratu Suhita, raja sebelumnya. Sebelum menjadi raja, Kertawijaya pernah menjadi Bhre Tumapel, yaitu menggantikan kakaknya yang meninggal awal tahun 1427.
Kertawijaya naik takhta menggantikan Suhita pada tahun 1447. Pada masa pemerintahannya, sering terjadi gempa bumi dan gunung meletus. Juga terjadi peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, yaitu Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel.
Selain itu, Kerawijaya juga berusaha memperbaiki hubungan dengan Kerajaan Blambangan yang sempat bermusuhan dengan Suhita. Di sisi lain, ia juga menghadapi serangan dari Kerajaan Demak yang mulai menunjukkan kekuatannya.