Kisah Shalawat KH. Raden Asnawi Menggetarkan Penjara Kolonial Belanda
Selasa, 12 September 2023 - 09:57 WIB
loading...
A
A
A
Dalam setiap khotbahnya, KH. Raden Asnawi juga terus membakar semangat para santri untuk melawan kolonialisme Belanda, hingga penjajah Jepang. Semangat para santri terus dipompa, untuk berani mengusir para penjajah dari bumi pertiwi.
Tak hanya di masa kolonial Belanda saja KH. Raden Asnawi harus berurusan dengan militer penjajah. Saat Jepang menduduki wilayah Indonesia, KH. Raden Asnawi juga tak luput dari incara tentara Jepang.
Baca juga: Viral Balita Keluar dari Bangkai Mobil yang Hancur usai Tabrakan di Tulang Bawang
KH. Raden Asnawi pernah dituduh menyimpan senjata api oleh tentara Jepang. Akibatnya, rumah kiai digerebek pasukan Jepang. Tak sampai di situ, kiai juga digelandang ke markas tentara Jepang.
Dilansir dari laman laduni.id, KH. Raden Asnawi sempat ditahan semalaman di markas Kempetai yang ada di Pati. Anehnya, pada pagi harinya dia dipanggil oleh Komandan Dai Nippon, tetapi tidak dimintai keterangan terkait kepemilikan senjata api, melainkan ditanya tentang berapa istri, anak, serta cucunya, kemudian disuruh pulang ke Kudus.
KH. Raden Asnawi juga melakukan gerakan membaca Shalawat Nariyah, dan membaca Surat Al-Fill. Para pemuda, dan anggota laskar yang hendak berjuang ke garis depan menghadapi militer penjajah, sering kali datang kepadanya untuk meminta doa restu.
Dalam tulisan Munawir Aziz juga disebutkan, KH. Raden Asnawi memiliki kedekatan dengan H. Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, dan sejumlah tokoh pergerakan di masa itu. Selama berada di Makkah, dia bergabung dan menjadi penggerak Sarekat Islam (SI).
Lalu, saat kembali ke tanah air pada tahun 1916 dia mendirikan Madrasah Qudsiyyah yang ada di kawasan Menara Kudus. Saat sudah bermukim di Kudus, KH. Raden Asnawi juga tetap aktif sebagai penasihat SI pada 1918.
Baca juga: Warga Dobrak Kamar Kost, Temukan 2 Ibu Muda Tengah Asyik Berpacu Kenikmatan dengan Seorang Pemuda
Tak hanya di masa kolonial Belanda saja KH. Raden Asnawi harus berurusan dengan militer penjajah. Saat Jepang menduduki wilayah Indonesia, KH. Raden Asnawi juga tak luput dari incara tentara Jepang.
Baca juga: Viral Balita Keluar dari Bangkai Mobil yang Hancur usai Tabrakan di Tulang Bawang
KH. Raden Asnawi pernah dituduh menyimpan senjata api oleh tentara Jepang. Akibatnya, rumah kiai digerebek pasukan Jepang. Tak sampai di situ, kiai juga digelandang ke markas tentara Jepang.
Dilansir dari laman laduni.id, KH. Raden Asnawi sempat ditahan semalaman di markas Kempetai yang ada di Pati. Anehnya, pada pagi harinya dia dipanggil oleh Komandan Dai Nippon, tetapi tidak dimintai keterangan terkait kepemilikan senjata api, melainkan ditanya tentang berapa istri, anak, serta cucunya, kemudian disuruh pulang ke Kudus.
KH. Raden Asnawi juga melakukan gerakan membaca Shalawat Nariyah, dan membaca Surat Al-Fill. Para pemuda, dan anggota laskar yang hendak berjuang ke garis depan menghadapi militer penjajah, sering kali datang kepadanya untuk meminta doa restu.
Dalam tulisan Munawir Aziz juga disebutkan, KH. Raden Asnawi memiliki kedekatan dengan H. Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, dan sejumlah tokoh pergerakan di masa itu. Selama berada di Makkah, dia bergabung dan menjadi penggerak Sarekat Islam (SI).
Lalu, saat kembali ke tanah air pada tahun 1916 dia mendirikan Madrasah Qudsiyyah yang ada di kawasan Menara Kudus. Saat sudah bermukim di Kudus, KH. Raden Asnawi juga tetap aktif sebagai penasihat SI pada 1918.
Baca juga: Warga Dobrak Kamar Kost, Temukan 2 Ibu Muda Tengah Asyik Berpacu Kenikmatan dengan Seorang Pemuda
Lihat Juga :