Pertarungan Sengit Santri KH Hasyim Asy'ari Melawan Pendekar Sakti dari Lokalisasi Kebo Ireng
Rabu, 07 Juni 2023 - 05:33 WIB
loading...
A
A
A
Mengetahui Wiro menyusupkan anak buahnya, Hasyim merasa senang, karena dengan begitu Hasyim memastikan jika Wiro tidak akan berani menggangu padepokannya secara langsung setelah mengetahui kemampuan ilmu silat putih santri-santrinya.
Benar saja, Wiro tidak berani melakukan perlawanan terbuka pada padepokan Hasyim. Melalui anak buahnya, Wiro melakukan provokasi dengan melempari pondok, bahkan pernah anak buah Wiro melepaskan panah api yang membakar atap pondok padepokan.
Namun Hasyim yang terkenal anti kekerasan itu melarang keras anak buahnya membalas provokasi tersebut. Bahkan kepada anak buahnya Hasyim selalu menyarankan agar selalu bersikap sopan terhadap semua orang, terutama masyarakat luar.
Beberapa kali santri padepokan di provokasi oleh anak buah Wiro saat belanja di Pasar Cukir, hingga diajak berkelahi, tapi para santri tidak pernah terpancing. Sikap para santri semakin menarik simpati masyarakat dan membuat Wiro kian berang.
Sehingga Wiro terus mengganggu padepokan dengan berbagai cara licik. Sikap licik Wiro yang terus menggangu padepokan lewat provokasi, akhirnya membuat Kiai Sakiban mengambil langkah untuk segera mengakhiri kekuasaan Wiro dan menyalamatkan warga dari kemaksiatan Kebo Ireng.
Kiai Sakiban mengambali keputusan untuk menantang Wiro bertarung secara jantan dengan santri padepokan, karena Kiai Sakiban yakin santri padepokan mampu mengalahkan Wiro.
Sebelum menjalankan rencananya, Kiai Sakiban terlebih dulu mengutarakan maksudnya kepada KH Hasyim. Meski awalnya sempat menolak rencana Kiai Sakiban karena dinilai membahayakan.
Namun atas dukungan para santri yang bermaksud ingin menyelamatkan warga dari Kebo Ireng pimpinan Wiro, KH Hasyim akhirnya menyetujui rencana tersebut.
Keputusan mengundang Wiro uji tanding sengaja diambil untuk menghindari hukum Belanda saat itu. Karena jika pertarungan dilakukan di luar padepokan, Belanda akan menangkap para santri serta menutup padepokan dengan tuduhan penyerangan. Dan diutuslah dua santri oleh Kiai Sakiban untuk menemui Wiro.
Setelah menemui Wiro di warung kopi Pasar Cukir tempat dirinya biasa duduk mengawasi anak buahnya, dua Santri utusan Kiai Sakiban langsung mengutarakan maksudnya.
"Kami menyampaikan salam dari Kiai Sakiban untuk kang Wiro," ujar salah satu santri. Mendengar itu, Wiro hanya menanggapi sinis." Ada apa Kiai Sakiban menyampaikan salam kepadaku," jawabnya sinis.
Kemudian salah satu santri kembali menyampaikan maksudnya."Kiai Sakiban minta kang Wiro beserta anak buahnya tidak menggangu padepokan kami. Kalau memang bersedia sebaiknya diadakan tanding terbuka saja, jangan mengganggu dengan cara pengecut seperti perempuan," sebut Santri itu.
Mendengar ucapan santri sontak mata wiro merah membara dan emosi." Kurang ajar! Berani sekali kalian menghina murid padepokanku seperti perempuan. Apa Kiai Sakiban tidak tahu siapa Wiro?" ujar Wiro dengan mata melotot.
Dua santri tersebut tidak menjawab, mereka hanya menunggu kata-kata Wiro selanjutnya. Dalam hati mereka merasa senang karena rencana memancing Wiro keluar bakal berhasil. "Bilang sama Kiai Sakiban, atur tempat pertarungan. Wiro sendiri yang akan turun," kata Wiro masih dengan nada emosi.
Usai Wiro berbicara dua santri pun pamit dan menyampaikan pesan kepada Kiai Sakiban serta KH Hasyim. Kabar bakal adanya pertarungan antara Wiro dengan santri padepokan cepat menyebar luas. Dan malam Jumat selepas Isya dijadikan waktu untuk uji tanding.
Benar saja, Wiro tidak berani melakukan perlawanan terbuka pada padepokan Hasyim. Melalui anak buahnya, Wiro melakukan provokasi dengan melempari pondok, bahkan pernah anak buah Wiro melepaskan panah api yang membakar atap pondok padepokan.
Namun Hasyim yang terkenal anti kekerasan itu melarang keras anak buahnya membalas provokasi tersebut. Bahkan kepada anak buahnya Hasyim selalu menyarankan agar selalu bersikap sopan terhadap semua orang, terutama masyarakat luar.
Beberapa kali santri padepokan di provokasi oleh anak buah Wiro saat belanja di Pasar Cukir, hingga diajak berkelahi, tapi para santri tidak pernah terpancing. Sikap para santri semakin menarik simpati masyarakat dan membuat Wiro kian berang.
Sehingga Wiro terus mengganggu padepokan dengan berbagai cara licik. Sikap licik Wiro yang terus menggangu padepokan lewat provokasi, akhirnya membuat Kiai Sakiban mengambil langkah untuk segera mengakhiri kekuasaan Wiro dan menyalamatkan warga dari kemaksiatan Kebo Ireng.
Kiai Sakiban mengambali keputusan untuk menantang Wiro bertarung secara jantan dengan santri padepokan, karena Kiai Sakiban yakin santri padepokan mampu mengalahkan Wiro.
Sebelum menjalankan rencananya, Kiai Sakiban terlebih dulu mengutarakan maksudnya kepada KH Hasyim. Meski awalnya sempat menolak rencana Kiai Sakiban karena dinilai membahayakan.
Namun atas dukungan para santri yang bermaksud ingin menyelamatkan warga dari Kebo Ireng pimpinan Wiro, KH Hasyim akhirnya menyetujui rencana tersebut.
Keputusan mengundang Wiro uji tanding sengaja diambil untuk menghindari hukum Belanda saat itu. Karena jika pertarungan dilakukan di luar padepokan, Belanda akan menangkap para santri serta menutup padepokan dengan tuduhan penyerangan. Dan diutuslah dua santri oleh Kiai Sakiban untuk menemui Wiro.
Setelah menemui Wiro di warung kopi Pasar Cukir tempat dirinya biasa duduk mengawasi anak buahnya, dua Santri utusan Kiai Sakiban langsung mengutarakan maksudnya.
"Kami menyampaikan salam dari Kiai Sakiban untuk kang Wiro," ujar salah satu santri. Mendengar itu, Wiro hanya menanggapi sinis." Ada apa Kiai Sakiban menyampaikan salam kepadaku," jawabnya sinis.
Kemudian salah satu santri kembali menyampaikan maksudnya."Kiai Sakiban minta kang Wiro beserta anak buahnya tidak menggangu padepokan kami. Kalau memang bersedia sebaiknya diadakan tanding terbuka saja, jangan mengganggu dengan cara pengecut seperti perempuan," sebut Santri itu.
Mendengar ucapan santri sontak mata wiro merah membara dan emosi." Kurang ajar! Berani sekali kalian menghina murid padepokanku seperti perempuan. Apa Kiai Sakiban tidak tahu siapa Wiro?" ujar Wiro dengan mata melotot.
Dua santri tersebut tidak menjawab, mereka hanya menunggu kata-kata Wiro selanjutnya. Dalam hati mereka merasa senang karena rencana memancing Wiro keluar bakal berhasil. "Bilang sama Kiai Sakiban, atur tempat pertarungan. Wiro sendiri yang akan turun," kata Wiro masih dengan nada emosi.
Usai Wiro berbicara dua santri pun pamit dan menyampaikan pesan kepada Kiai Sakiban serta KH Hasyim. Kabar bakal adanya pertarungan antara Wiro dengan santri padepokan cepat menyebar luas. Dan malam Jumat selepas Isya dijadikan waktu untuk uji tanding.
Lihat Juga :