6 Fakta Kapitan Pattimura, Pahlawan Berdarah Bangsawan asal Maluku
Selasa, 06 Juni 2023 - 12:03 WIB
loading...
A
A
A
Meski begitu, gelar yang dipakai oleh Pattimura sendiri bukanlah yang diberikan oleh Belanda. Melainkan diberikan oleh rakyat Maluku setelah dirinya berhasil melawan kolonial Belanda. Hal ini dikemukakan dalam buku Mengenal Pahlawan Indonesia (Arya Ajisaka & Damayanti, 2010).
Setelah berhasil menaklukan Benteng Duurstede pada tanggal 29 Mei 1817, Pattimura beserta pemimpin dari daerah Maluku membuat sebuah proklamasi yang dikenal dengan Proklamasi Haria.
Isi dari proklamasi tersebut yakni beberapa keluhan mereka terhadap pemerintah Belanda serta mendeklarasikan Kapitan Pattimura sebagai pemimpin Rakyat Maluku.
Penyerbuan dan penaklukan benteng Duurstede oleh Kapitan Pattimura menjadi awal pemicu bangkitnya semangat rakyat maluku untuk menentang kolonialisme. Hal ini ditandai dengan adanya penyerbuan di daerah lain sekitar Maluku.
Di Pulau Ambon, perlawanan terhadap kolonial Belanda dipimpin oleh Kapitan Ulupaha. Sementara di Pulau Nusalaut, perlawanan dipimpin oleh Kapitan Paulus Tiahahu yang selalu didampingi putrinya, Martha Christina Tiahahu yang masih berusia remaja.
Siasat Devide et impera atau yang dikenal dengan politik pecah belah pernah digunakan oleh pihak kolonial Belanda untuk menumbangkan Sang Kapitan beserta pasukannya. Bermodal hasutan, Belanda berhasil membujuk tokoh-tokoh yang tidak menyukai Pattimura.
Akibat pengkhianatan dari beberapa tokoh itu, Belanda pun dengan mudah mengetahui strategi Pattimura dan berhasil menangkapnya. Karena tidak mau bekerja sama dengan pihak kolonial, Kapitan Pattimura pun dihukum gantung pada usia yang masih muda, yakni 34 tahun.
4. Diangkat sebagai pemimpin rakyat Maluku
Setelah berhasil menaklukan Benteng Duurstede pada tanggal 29 Mei 1817, Pattimura beserta pemimpin dari daerah Maluku membuat sebuah proklamasi yang dikenal dengan Proklamasi Haria.
Isi dari proklamasi tersebut yakni beberapa keluhan mereka terhadap pemerintah Belanda serta mendeklarasikan Kapitan Pattimura sebagai pemimpin Rakyat Maluku.
5. Menginisiasi wilayah lain untuk melawan
Penyerbuan dan penaklukan benteng Duurstede oleh Kapitan Pattimura menjadi awal pemicu bangkitnya semangat rakyat maluku untuk menentang kolonialisme. Hal ini ditandai dengan adanya penyerbuan di daerah lain sekitar Maluku.
Di Pulau Ambon, perlawanan terhadap kolonial Belanda dipimpin oleh Kapitan Ulupaha. Sementara di Pulau Nusalaut, perlawanan dipimpin oleh Kapitan Paulus Tiahahu yang selalu didampingi putrinya, Martha Christina Tiahahu yang masih berusia remaja.
6. Kapitan Pattimura Wafat karena hukuman gantung
Siasat Devide et impera atau yang dikenal dengan politik pecah belah pernah digunakan oleh pihak kolonial Belanda untuk menumbangkan Sang Kapitan beserta pasukannya. Bermodal hasutan, Belanda berhasil membujuk tokoh-tokoh yang tidak menyukai Pattimura.
Akibat pengkhianatan dari beberapa tokoh itu, Belanda pun dengan mudah mengetahui strategi Pattimura dan berhasil menangkapnya. Karena tidak mau bekerja sama dengan pihak kolonial, Kapitan Pattimura pun dihukum gantung pada usia yang masih muda, yakni 34 tahun.
(shf)
Lihat Juga :