Menguak Misteri Pangeran Pajajaran di Situs Cagar Alam Batu Kalde
Senin, 05 Juni 2023 - 05:34 WIB
loading...
A
A
A
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, juga menyebutkan bahwa selain sebagai tempat peribadatan Hindu dan pencarian ilmu, Batu Kalde juga sebagai tempat pemakaman atau peristirahatan akhir Raja Galuh Maharaja Sanghiyang Cipta atau Prabu Linggawesi.
Dalam Waosan Babad Galuh tersirat, setelah Prabu Linggawesi wafat, jasadnya disempurnakan di Candi Candha Wasi yang lokasinya terletak di sebuah semenanjung Pantai Selatan.
Pada Waosan Babad Galuh juga diterangkan, saat prosesi pemakaman di sepanjang jalan dari mulai Ciputrapinggan ke lokasi Candi Canda Wasi rakyat duduk berlapis-lapis memberikan penghormatan terakhir pada raja.
Baca juga: 2 Bulan Jelang Pernikahan, Aji Tewas Ditikam Mantan Pacar Calon Istri
Antrean rakyat yang memberikan penghormatan terakhir kepada Raja Galuh Pangauban Maharaja Sanghiyang Cipta, disebutkan sampai berjubel dari puri keraton yang terletak di Ciputrapinggan, hingga Candi Candha Wasi.
Rasa hormat yang tinggi masyarakat kepada raja, terlihat dari berbagai macam prosesi kebudayaan digelar dalam acara pemakaman raja tersebut. Arak-arakan juga digelar, untuk mengantarkan jenazah ke tempat peristirahat terakhir, yakni berupa arak-arakan payung asri, payung kembar, dan payung agung.
Keterangan dalam Waosan Babad Galuh, merupakan penegasan jika sekitar Abad 14 Candi Candha Wasi merupakan tempat yang dinilai suci dan sakral semasa masyarakat menganut ajaran Hindu.
Dalam Waosan Babad Galuh tersirat, setelah Prabu Linggawesi wafat, jasadnya disempurnakan di Candi Candha Wasi yang lokasinya terletak di sebuah semenanjung Pantai Selatan.
Pada Waosan Babad Galuh juga diterangkan, saat prosesi pemakaman di sepanjang jalan dari mulai Ciputrapinggan ke lokasi Candi Canda Wasi rakyat duduk berlapis-lapis memberikan penghormatan terakhir pada raja.
Baca juga: 2 Bulan Jelang Pernikahan, Aji Tewas Ditikam Mantan Pacar Calon Istri
Antrean rakyat yang memberikan penghormatan terakhir kepada Raja Galuh Pangauban Maharaja Sanghiyang Cipta, disebutkan sampai berjubel dari puri keraton yang terletak di Ciputrapinggan, hingga Candi Candha Wasi.
Rasa hormat yang tinggi masyarakat kepada raja, terlihat dari berbagai macam prosesi kebudayaan digelar dalam acara pemakaman raja tersebut. Arak-arakan juga digelar, untuk mengantarkan jenazah ke tempat peristirahat terakhir, yakni berupa arak-arakan payung asri, payung kembar, dan payung agung.
Keterangan dalam Waosan Babad Galuh, merupakan penegasan jika sekitar Abad 14 Candi Candha Wasi merupakan tempat yang dinilai suci dan sakral semasa masyarakat menganut ajaran Hindu.
(eyt)
Lihat Juga :