alexametrics

Cerita Pagi

Misteri Hilangnya Supriyadi dan Pemberontakan PETA

loading...
Misteri Hilangnya Supriyadi dan Pemberontakan PETA
Supriyadi dan Pemberontakan PETA (foto:Istimewa/Hasan Kurniawan-Sindonews)
A+ A-
PEMBERONTAKAN tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar, pada 14 Februari 1945, memiliki nilai historis yang sangat besar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan fasisme Jepang.

Dalam peristiwa itu, sejumlah tentara PETA yang dipimpin tiga orang perwira dan seorang bintara, terdiri dari Muradi, Supriyadi, Suparjono, dan Sunanto melakukan gerakan bersenjata.

Gerakan ini pada awalnya akan dilakukan secara serempak oleh Daidan Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Namun rencana itu diketahui oleh Jepang dan pemberontakan akhirnya dibatalkan.

Tetapi informasi itu tidak sampai ke Daidan Blitar. Sulitnya komunikasi masa itu, membuat para pemimpin PETA di Blitar tetap melanjutkan rencana mereka untuk melakukan pemberontakan.

Percakapan para pemimpin pemberontak di ruang jaga Kesatrian Daidan Blitar sesaat sebelum pemberontakan di bawah ini membuktikan tidak sampainya informasi tentang rencana pembatalan itu.

"Jadikah malam ini?" tanya Muradi yang langsung dijawab oleh Supriyadi, "Menunggu apalagi? Penderitaan rakyat sudah sampai dipuncak dan sudah tidak tertahankan lagi."

"Bagaimana bapak-bapak dan saudara-saudara lainnya?" sambung Muradi menyangsikan persiapan yang dilakukan daidan lainnya. "Mereka sudah mengetahui semuanya," timpal Suparjono cepat.

"Kalau kita mulai, mereka akan dengan sendirinya mengikuti gerakan kita. Harus ada yang berani memeloporinya," terang Suparjono meyakinkan para pemimpin pemberontakan untuk bergerak terus.

"Dalam perang Bratayuda, Sang Kresna memuji para kesatria yang berani mengorbankan jiwa-raganya dengan tidak menanyakan lebih dahulu, untuk apa?" tambah Supriyadi dengan bersemangat.

"Kresna, Arjuna dan seluruh Bratayuda tidak ada hubungannya dengan kita ini. Bagaimana rencana yang sesungguhnya," sela Sunanto menenangkan suasana yang mulai emosional itu.

"Kita bunuh semua orang Jepang yang ada di sini. Selanjutnya bersama dengan daidan lainnya menyerang tiap pasukan tentara Jepang yang digerakkan untuk menindas kita," terang Supriyadi.

"Apakah daidan lainnya akan mengikuti kita dan mengetahui apa yang kita mulai?" sela yang lainnya dengan cemas. "Tentu!" jawab Supriyadi dengan sangat yakin.

"Kita sudah mengadakan hubungan dengan mereka. Kita harus mengambil siasat yang terbaik, ialah siasat mendahului menyerang," tegas Supriyadi. "Risikonya terlalu besar," sela yang lainnya.

"Risiko apa? Apakah kita mau disamakan dengan orang-orang yang mengaku dan menamakan diri sebagai pemimpin rakyat, tetapi hanya bisa bicara saja?" tanya Supriyadi. "Kita tidak mengetahui bagaimana kekuatan musuh kita," tanya yang lainnya.

"Lebih baik begitu! Sejarah perang penuh dengan contoh yang membuktikan bahwa dalam keadaan yang jelek sekalipun dapat juga dicapai kemenangan-kemenangan," timpal Supriyadi lagi.
halaman ke-1 dari 4
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak