Kisah Bon Ali Santri Berpangkat Ipda, Bangun 14 Masjid dan Tampung Anak Mantan Teroris
Selasa, 11 April 2023 - 21:54 WIB
loading...
A
A
A
"Di sini ada 15 santri anak mantan teroris,"ujar dia.
Setelah mengasuh ratusan anak yatim, aksi sosial Bon Ali terus berlanjut dengan mendirikan 14 masjid dan 13 sumber air. Khusus 13 sumber air ia bangun di daerah rawan kekeringan saat kemarau di pelosok desa Kabupaten Gunungkidul.
Dia bercita-cita membangun masjid di pelosok desa karena kasihan dengan para lansia yang terlalu jauh ketika harus menunaikan salat di masjid. Kini sudah ada 14 masjid dibangun, ada yang di Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, dan satu lagi di Jawa Timur. "Saya membangun sejak 2013," tuturnya.
Sementara 13 sumber air yang dibangun berada di kawasan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul. Dia sendiri menyadari jika Kabupaten Gunungkidul sejak dulu menjadi daerah langganan kekeringan ketika musim kemarau datang.
Sehingga kebutuhan air bersih warga di sana sangat sulit dijangkau. Di mana ketika kemarau untuk mencari air hanya satu liter saja susah. Sementara untuk mobil tanki air tidak bisa menjangkau hingga ke pelosok desa karena aksesnya yang sulit.
" Ya, sudah saya bikin sumber air bekerjasama dengan warga sekitar. Alhamdulillah bisa," ujarnya.
Baca juga: Kisah Andi Riza Ardia, Mahasiswi Cantik di Majene yang Nyambi Jadi Pemulung dan Jualan Buah
Dia sendiri masih memiliki mimpi untuk membangun rumah sakit di daerah terpencil Gunungkidul. Alasannya simple, karena warga di pelosok Gunungkidul kalau hendak ke rumah sakit harus menempuh perjalanan cukup jauh. Tak sedikit warga yang meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
Kisah Bon Ali dimulai sekira 40 tahun silam, di mana kala itu dia ikut menjadi santri di salah satu pelosok desa daerah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Perjalanannya menjadi santri pun tanpa sengaja karena awalnya Bon Ali hanyalah seorang pedagang tempe keliling
"Tempe...tempe...tempe mangga dilarisi (silakan diborong),"kata dia mengenang masa lalu.
Kala itu, ia mengabdi di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang sebagai seorang santri. Di usia belia itu Bon Ali sudah harus bangun pagi buta untuk menjual tempe yang diproduksi oleh kyainya sendiri yakni KH Jamaluddin Ahmad.
Bon nama depan sapaan Ali merupakan warisan para santri lantaran Ipda Ali sering kas bon atau berhutang di warung. Dan kala itu, pondok pesantren tempatnya menimba ilmu diasuh oleh KH Djamaluddin Ahmad merupakan penerus pondok pesantren Tambak Beras yang didirikan ulama besar NU Kyai Wahab Hasbullah.
"Selama nyantri saya itu salah satu santri yang tak pandai mengaji,"tuturnya.
Setelah mengasuh ratusan anak yatim, aksi sosial Bon Ali terus berlanjut dengan mendirikan 14 masjid dan 13 sumber air. Khusus 13 sumber air ia bangun di daerah rawan kekeringan saat kemarau di pelosok desa Kabupaten Gunungkidul.
Dia bercita-cita membangun masjid di pelosok desa karena kasihan dengan para lansia yang terlalu jauh ketika harus menunaikan salat di masjid. Kini sudah ada 14 masjid dibangun, ada yang di Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, dan satu lagi di Jawa Timur. "Saya membangun sejak 2013," tuturnya.
Sementara 13 sumber air yang dibangun berada di kawasan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul. Dia sendiri menyadari jika Kabupaten Gunungkidul sejak dulu menjadi daerah langganan kekeringan ketika musim kemarau datang.
Sehingga kebutuhan air bersih warga di sana sangat sulit dijangkau. Di mana ketika kemarau untuk mencari air hanya satu liter saja susah. Sementara untuk mobil tanki air tidak bisa menjangkau hingga ke pelosok desa karena aksesnya yang sulit.
" Ya, sudah saya bikin sumber air bekerjasama dengan warga sekitar. Alhamdulillah bisa," ujarnya.
Baca juga: Kisah Andi Riza Ardia, Mahasiswi Cantik di Majene yang Nyambi Jadi Pemulung dan Jualan Buah
Dia sendiri masih memiliki mimpi untuk membangun rumah sakit di daerah terpencil Gunungkidul. Alasannya simple, karena warga di pelosok Gunungkidul kalau hendak ke rumah sakit harus menempuh perjalanan cukup jauh. Tak sedikit warga yang meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
Kisah Bon Ali dimulai sekira 40 tahun silam, di mana kala itu dia ikut menjadi santri di salah satu pelosok desa daerah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Perjalanannya menjadi santri pun tanpa sengaja karena awalnya Bon Ali hanyalah seorang pedagang tempe keliling
"Tempe...tempe...tempe mangga dilarisi (silakan diborong),"kata dia mengenang masa lalu.
Kala itu, ia mengabdi di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang sebagai seorang santri. Di usia belia itu Bon Ali sudah harus bangun pagi buta untuk menjual tempe yang diproduksi oleh kyainya sendiri yakni KH Jamaluddin Ahmad.
Bon nama depan sapaan Ali merupakan warisan para santri lantaran Ipda Ali sering kas bon atau berhutang di warung. Dan kala itu, pondok pesantren tempatnya menimba ilmu diasuh oleh KH Djamaluddin Ahmad merupakan penerus pondok pesantren Tambak Beras yang didirikan ulama besar NU Kyai Wahab Hasbullah.
"Selama nyantri saya itu salah satu santri yang tak pandai mengaji,"tuturnya.
Lihat Juga :