Sutan Sjahrir Meninggal 9 April 1966, Selembar Suratnya Begitu Menyentuh Hati
Minggu, 09 April 2023 - 21:21 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Pilu Ranggalawe, Dituduh Memberontak dan Akhirnya Terbunuh di Pinggir Sungai
Bukankah kesedihan pribadi kita akhirnya hanya sebagian kecil saja dari penderitaan yang besar, yang umum itu? Bukankah justru penderitaan itu merupakan ikatan kita yang semesra-mesranya dan sekuat-kuatnya?
Justru sekarang--pada saat aku barangkali harus berpisah untuk selama--lamanya dengan yang paling kucintai dan yang paling indah bagiku di dunia ini—justru sekarang inilah aku merasa lebih terikat pada bangsaku, aku semakin mencintainya lebih daripada yang sudah-sudah”, demikian dikutip dari buku Sutan Sjahrir Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan (2010).
Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, yakni di bawah bayangan dua gunung, Merapi dan Singgalang. Ayahnya, Mohamad Rasad seorang jaksa kepala (landraat) di Pengadilan Negeri.
Sedangkan ibunya, Poetri Siti Rabiah berasal dari Tapanuli, dari keluarga raja-raja lokal swapraja.
Perawakan Sjahrir yang cenderung pendek dan berbakat gemuk, yakni 160 cm, bersorot mata ramah bersahabat serta suka ketawa lepas, membuatnya mendapat julukan Bung Kecil.
Julukan itu diperoleh saat menjabat Perdana Menteri Indonesia. Sjahrir melihat politik sebagai tanggung jawab yang harus dipikulnya. Sebagai pendiri (1948) sekaligus ketua PSI (Partai Sosialis Indonesia), Sjahrir tidak pernah memandang politik sebagai tujuan. Dan bahkan kemerdekaan nasional bukan tujuan akhir politiknya.
Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional hanyalah jalan mewujudkan martabat manusia dan kesejahteraan bagi bangsa. Sedangkan politik hanyalah jalan mencapai kemerdekaan nasional.
Bukankah kesedihan pribadi kita akhirnya hanya sebagian kecil saja dari penderitaan yang besar, yang umum itu? Bukankah justru penderitaan itu merupakan ikatan kita yang semesra-mesranya dan sekuat-kuatnya?
Justru sekarang--pada saat aku barangkali harus berpisah untuk selama--lamanya dengan yang paling kucintai dan yang paling indah bagiku di dunia ini—justru sekarang inilah aku merasa lebih terikat pada bangsaku, aku semakin mencintainya lebih daripada yang sudah-sudah”, demikian dikutip dari buku Sutan Sjahrir Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan (2010).
Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, yakni di bawah bayangan dua gunung, Merapi dan Singgalang. Ayahnya, Mohamad Rasad seorang jaksa kepala (landraat) di Pengadilan Negeri.
Sedangkan ibunya, Poetri Siti Rabiah berasal dari Tapanuli, dari keluarga raja-raja lokal swapraja.
Perawakan Sjahrir yang cenderung pendek dan berbakat gemuk, yakni 160 cm, bersorot mata ramah bersahabat serta suka ketawa lepas, membuatnya mendapat julukan Bung Kecil.
Julukan itu diperoleh saat menjabat Perdana Menteri Indonesia. Sjahrir melihat politik sebagai tanggung jawab yang harus dipikulnya. Sebagai pendiri (1948) sekaligus ketua PSI (Partai Sosialis Indonesia), Sjahrir tidak pernah memandang politik sebagai tujuan. Dan bahkan kemerdekaan nasional bukan tujuan akhir politiknya.
Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional hanyalah jalan mewujudkan martabat manusia dan kesejahteraan bagi bangsa. Sedangkan politik hanyalah jalan mencapai kemerdekaan nasional.
Lihat Juga :