Kisah Kesaktian Tombak Kiai Pleret Mencabut Nyawa Raja Jipang Arya Penangsang
Sabtu, 08 April 2023 - 07:24 WIB
loading...
A
A
A
Setelah itu pasukan mereka berbaris menuju Caket, dengan kekuatan 200 orang. Di sana mereka menangkap perumput dari istana Panangsang, yang sedang mencari rumput untuk kuda Gagak Rimang. Dengan imbalan 15 rial satu telinga perumput itu diiris, sedangkan pada sebelah lainnya diikatkan surat tantangan yang bernada ejekan.
Dalam keadaan demikianlah perumput yang malang itu kembali ke istana. Patih Kerajaan Jipang, Ki Mataun, sangat terkejut melihat perumput itu, dan dengan sia-sia mencoba meredakan ledakan kemarahan Arya Penangsang.
Kedatangan perumput yang teraniaya, beserta surat penghinaan itu memang benar-benar membuat marah Arya Penangsang yang baru saja duduk di meja makan. Dia langsung mengepalkan tangannya, dan memukul piringnya sampai pecah.
Baca juga: Cinta Ditolak Siswi SMA, Pria 40 Tahun Ngamuk Rusak Rumah Korban Pakai Pedang
Kakaknya bernama Aria Mataram, berusaha meredakannya. Tetapi, Penangsang sudah lari menghilang di atas kudanya, sambil melecutnya sekeras-kerasnya. Sementara itu, Ki Mataun yang sakit asma mengikutinya dengan napas terengah-engah, dan tidak dapat menyusulnya.
Setelah menyerukan kata-kata ejekan dan tantangan, Raja Jipang menyeberangi kali. Kemudian datanglah kutukan, karenanya barang siapa yang menyeberangi kali, akan kalah perang. Setelah itu terjadilah pertempuran sengit. Sekalipun perutnya terluka parah, Araya Penangsang menantang Karebet.
Dalam keadaan demikianlah perumput yang malang itu kembali ke istana. Patih Kerajaan Jipang, Ki Mataun, sangat terkejut melihat perumput itu, dan dengan sia-sia mencoba meredakan ledakan kemarahan Arya Penangsang.
Kedatangan perumput yang teraniaya, beserta surat penghinaan itu memang benar-benar membuat marah Arya Penangsang yang baru saja duduk di meja makan. Dia langsung mengepalkan tangannya, dan memukul piringnya sampai pecah.
Baca juga: Cinta Ditolak Siswi SMA, Pria 40 Tahun Ngamuk Rusak Rumah Korban Pakai Pedang
Kakaknya bernama Aria Mataram, berusaha meredakannya. Tetapi, Penangsang sudah lari menghilang di atas kudanya, sambil melecutnya sekeras-kerasnya. Sementara itu, Ki Mataun yang sakit asma mengikutinya dengan napas terengah-engah, dan tidak dapat menyusulnya.
Setelah menyerukan kata-kata ejekan dan tantangan, Raja Jipang menyeberangi kali. Kemudian datanglah kutukan, karenanya barang siapa yang menyeberangi kali, akan kalah perang. Setelah itu terjadilah pertempuran sengit. Sekalipun perutnya terluka parah, Araya Penangsang menantang Karebet.
Lihat Juga :