Tujuh Niang Mengisahkan Kehidupan Orang Manggarai
Selasa, 21 Juli 2020 - 05:01 WIB
loading...
A
A
A
Konstruksi rumah adat orang Manggarai selalu pakem, di mana pada bagian tengah rumah adat ada satu tiang penyangga utama yang disebut siri (tiang) bongkok (utama). Wujudnya dua batang kayu yang disambung. Ini disebut papa Ngando dan Ngando, simbol perkawinan lelaki dan perempuan.
Dari papa ngando paling tinggi, ditarik ring penahan atap berbentuk jejaring laba-laba. Bagian dalam rumah adat yang berbentuk bulat mengandung filosofi kesatuan pola hidup manusia yang mengisyaratkan keutuhan hidup, tidak ada konflik, tapi harmoni yang selalu dijaga. (Baca: Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda)
Compang (di tengah kampung) dan rumah mengitari compang dengan tiang penyangga utama tengah, darinya ring penahan atap membentuk jejaring laba-laba, melambangkan satu-kesatuan hidup orang Manggarai yang saling terhubung satu sama lain. Jadi, bangunan dasar falsafah kehidupan orang manggarai adalah keterhubugan; antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan wujud tertinggi.
Falsafah jejaring keterhubungan itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangkaian lingkaran musim. Di Wae Rebo, jika wisatawan datang tepat pada bulan Mei, pengunjung akan menyaksikan ritual kasawiang, ritual saat perubahan cuaca akibat pergerakan angin dari timur ke barat. Ada juga ritual adat pada Oktober, saat angin bergerak dari barat ke timur.
Adapun upacara Penti yang berlangsung pada November adalah tahun baru adat yang ditandai awal musim menanam. Pada acara penti warga meminta restu dan kesuburan pada leluhur dan alam agar semua benih yang ditanam dapat bertumbuh subur.
Nilai-nilai kearifan lokal yang terus terjaga membuat kampung Wae Rebo diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2012. Pengakuan tersebut membuat tempat terpencil ini dikenal dunia. Saat ini Wae Rebo menjadi salah satu destinasi wisata populer di Flores, NTT.
Dari papa ngando paling tinggi, ditarik ring penahan atap berbentuk jejaring laba-laba. Bagian dalam rumah adat yang berbentuk bulat mengandung filosofi kesatuan pola hidup manusia yang mengisyaratkan keutuhan hidup, tidak ada konflik, tapi harmoni yang selalu dijaga. (Baca: Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda)
Compang (di tengah kampung) dan rumah mengitari compang dengan tiang penyangga utama tengah, darinya ring penahan atap membentuk jejaring laba-laba, melambangkan satu-kesatuan hidup orang Manggarai yang saling terhubung satu sama lain. Jadi, bangunan dasar falsafah kehidupan orang manggarai adalah keterhubugan; antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan wujud tertinggi.
Falsafah jejaring keterhubungan itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangkaian lingkaran musim. Di Wae Rebo, jika wisatawan datang tepat pada bulan Mei, pengunjung akan menyaksikan ritual kasawiang, ritual saat perubahan cuaca akibat pergerakan angin dari timur ke barat. Ada juga ritual adat pada Oktober, saat angin bergerak dari barat ke timur.
Adapun upacara Penti yang berlangsung pada November adalah tahun baru adat yang ditandai awal musim menanam. Pada acara penti warga meminta restu dan kesuburan pada leluhur dan alam agar semua benih yang ditanam dapat bertumbuh subur.
Nilai-nilai kearifan lokal yang terus terjaga membuat kampung Wae Rebo diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2012. Pengakuan tersebut membuat tempat terpencil ini dikenal dunia. Saat ini Wae Rebo menjadi salah satu destinasi wisata populer di Flores, NTT.
(don)
Lihat Juga :