Pentingnya Memperhatikan Tumbuh Kembang Anak di Masa Pandemi
Minggu, 19 Juli 2020 - 13:52 WIB
loading...
A
A
A
Dr Johny mengatakan, malnutrisi dapat mempengaruhi pertumbuhan anak, sekaligus juga memengaruhi perkembangan anak dan performa di sekolah. Dampak jangka panjang, krisis COVID-19 dikhawatirkan akan meningkatkan prevalensi stunting dan obesitas akibat terbatasnya aktivitas fisik dan meningkatnya konsumsi makanan olahan secara terus menerus yang mengandung kadar gula, garam dan lemak yang tinggi.
“Kedua hal ini harus diwaspadai dan akan membahayakan masa depan mereka. Terutama akan meningkatkan resiko penyakit degeneratif yang akan mereka dapatkan di saat anak-anak ini masuk pada usia remaja dan dewasa muda,” kata dia.
Tidak hanya terhadap fisik, dr Johny menambahkan masa pandemi COVID-19 juga berdampak terhadap perkembangan mental anak. Hal ini terjadi karena keterbatasan interaksi dan banyaknya aturan baru juga dapat memberikan dampak tingkat stres pada anak. Misalnya saja tentang tidak boleh bermain di luar bersama teman, dan penggunaan masker. Bahkan pada remaja akan mengalami perasaan terisolasi dan kesepian.
"Pandemi ini juga berpotensi menjadi kenangan traumatis yang permanen pada anak dan remaja. Terutama pada anak-anak yang mengalami kehilangan atau meninggalnya anggota keluarga karena COVID-19,” kata dia.
Hal lain yang disampaikan dr Johny, masa pandemi ini juga akan memberikan dampak terhadap rasa aman kepada anak. Itu sejalan dengan survei Komnas Perempuan yang dilakukan bulan April-Mei 2020 yang lalu menunjukan angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi pada 80% keluarga dengan penghasilan di bawah Rp5 juta perbulan. Secara umum, KDRT di domisili kekerasan psikologis dan KDRT.
Bahkan anak akan menjadi objek pelampiasan kemarahan atau stress orang tua terhadap permasalahan yang dihadapinya. Tak kalah mengkhawatirkan adalah selama pandemi ini, anak juga mengalami keterlambatan imunisasi. Sebab, selama masa pandemi orang tua hanya menganggap bahwa membawa anak ke pusat kesehatan atau rumah sakit hanya benar-benar mendesak saja.
“Kedua hal ini harus diwaspadai dan akan membahayakan masa depan mereka. Terutama akan meningkatkan resiko penyakit degeneratif yang akan mereka dapatkan di saat anak-anak ini masuk pada usia remaja dan dewasa muda,” kata dia.
Tidak hanya terhadap fisik, dr Johny menambahkan masa pandemi COVID-19 juga berdampak terhadap perkembangan mental anak. Hal ini terjadi karena keterbatasan interaksi dan banyaknya aturan baru juga dapat memberikan dampak tingkat stres pada anak. Misalnya saja tentang tidak boleh bermain di luar bersama teman, dan penggunaan masker. Bahkan pada remaja akan mengalami perasaan terisolasi dan kesepian.
"Pandemi ini juga berpotensi menjadi kenangan traumatis yang permanen pada anak dan remaja. Terutama pada anak-anak yang mengalami kehilangan atau meninggalnya anggota keluarga karena COVID-19,” kata dia.
Hal lain yang disampaikan dr Johny, masa pandemi ini juga akan memberikan dampak terhadap rasa aman kepada anak. Itu sejalan dengan survei Komnas Perempuan yang dilakukan bulan April-Mei 2020 yang lalu menunjukan angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi pada 80% keluarga dengan penghasilan di bawah Rp5 juta perbulan. Secara umum, KDRT di domisili kekerasan psikologis dan KDRT.
Bahkan anak akan menjadi objek pelampiasan kemarahan atau stress orang tua terhadap permasalahan yang dihadapinya. Tak kalah mengkhawatirkan adalah selama pandemi ini, anak juga mengalami keterlambatan imunisasi. Sebab, selama masa pandemi orang tua hanya menganggap bahwa membawa anak ke pusat kesehatan atau rumah sakit hanya benar-benar mendesak saja.
Lihat Juga :