Salat Tarawih Super Kilat, 23 Rakaat Dilaksanakan Kurang Dari 10 Menit
Kamis, 23 Maret 2023 - 22:43 WIB
loading...
Salat tarawih 23 rakaat yang dilaksanakan dalam waktu kurang dari 10 menit, sudah menjadi tradisi lebih dari 100 tahun di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Foto/iNews TV/Robby Ridwan
A
A
A
BLITAR - Salat tarawih di Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, berlangsung sangat unik. Pasalnya, para jemaah melaksanakan salat tarawih 23 rakaat dalam waktu super kilat, yakni tidak sampai 10 menit.
Baca juga: Penuh Toleransi, Begini Pelaksanaan Salat Tarawih saat Nyepi di Denpasar Bali
Tradisi salat tarawih dalam waktu singkat di pondok pesantren yang ada di Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar tersebut, ternyata sudah berlangsung lebih dari 100 tahun. Meskipun sangat cepat, para jemaah menjalankan salat tarawih sesuai syarat dan rukun salat.
Setiap bulan suci Ramadan, ribuan jemaah selalu memadati pondok pesantren tersebut, untuk mengikuti tradisi salat tarawih dalam waktu yang sangat cepat. Mereka datang dari berbagai daerah di sekitar pondok pesantren.
Baca juga: Suami Bu Kades Ngaku Temukan Bayi, Ternyata Anak Sendiri Hasil Perselingkuhan
Tradisi salat tarawih dengan cepat tersebut, menurut Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, KH. Dliya'uddin Azzamzami, sudah dilaksanakan sejak pondok pesantren berdiri pada tahun 1900-an. "Salat tarawih dengan cepat ini, sudah menjadi tradisi sejak zaman kakek saya, KH. Abdul Qofur, pada tahun 1900-an," tuturnya.
Dia menjelaskan, salat tarawih dengan cepat tersebut dilaksanakan para pendahulu di Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, karena masyarakat di sekitarnya sangat sulit diajak beribadah karena rata-rata merupakan pekerja.
![Salat Tarawih Super Kilat, 23 Rakaat Dilaksanakan Kurang Dari 10 Menit]()
Kondisi tersebut, membuat para pendahulu di Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, melakukan salat tarawih dengan cepat. "Meski ada anggapan salat tarawih dengan cepat ini belum tumakninah, tetapi kami menyakini tidak ada perbedaan salat terawih yang dilaksanakan ini dengan di tempat lain," ungkap Dliya'uddin.
Dia mengaku, mendapatkan dukungan dari ulama-ulama yang lain untuk tetap menjaga tradisi salat tarawih dengan cepat, karena memang tidak mengurangi syarat dan rukun salat. Hal inilah yang membuat tradisi tersebut, terus berlangsung hingga lebih dari satu abad.
Baca juga: Karomah Sunan Gunung Jati Bikin Pasukan Pajajaran Mendadak Lumpuh hingga Berbondong-bondong Memeluk Islam
Salah seorang jemaah salat tarawih yang dilaksanakan dengan cepat, Arif mengaku memilih salat tarawih di Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, karena kecepatanya membuatnya tidak sampai melamun saat salat.
"Salat tarawih tetap dapat saya ikuti di tengah kesibukan bekerja. Selain itu saya jadi lebih khusyuk, karena tidak sampai melamun. Terkait syarat dan rukun salat tarawih dengan cepat tersebut, dinilainya tidak berbeda dengan masjid lainnya," ungkapnya.
![Salat Tarawih Super Kilat, 23 Rakaat Dilaksanakan Kurang Dari 10 Menit]()
Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, memiliki lebih dari 1.500 santri laki-laki dan perempuan. Para santri berasal dari warga sekitar, serta banyak yang datang dari Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Mereka datang untuk belajar mengaji salafiyah atau mengaji kitab kuning.
Baca juga: Penuh Toleransi, Begini Pelaksanaan Salat Tarawih saat Nyepi di Denpasar Bali
Tradisi salat tarawih dalam waktu singkat di pondok pesantren yang ada di Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar tersebut, ternyata sudah berlangsung lebih dari 100 tahun. Meskipun sangat cepat, para jemaah menjalankan salat tarawih sesuai syarat dan rukun salat.
Setiap bulan suci Ramadan, ribuan jemaah selalu memadati pondok pesantren tersebut, untuk mengikuti tradisi salat tarawih dalam waktu yang sangat cepat. Mereka datang dari berbagai daerah di sekitar pondok pesantren.
Baca juga: Suami Bu Kades Ngaku Temukan Bayi, Ternyata Anak Sendiri Hasil Perselingkuhan
Tradisi salat tarawih dengan cepat tersebut, menurut Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, KH. Dliya'uddin Azzamzami, sudah dilaksanakan sejak pondok pesantren berdiri pada tahun 1900-an. "Salat tarawih dengan cepat ini, sudah menjadi tradisi sejak zaman kakek saya, KH. Abdul Qofur, pada tahun 1900-an," tuturnya.
Dia menjelaskan, salat tarawih dengan cepat tersebut dilaksanakan para pendahulu di Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, karena masyarakat di sekitarnya sangat sulit diajak beribadah karena rata-rata merupakan pekerja.

Kondisi tersebut, membuat para pendahulu di Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, melakukan salat tarawih dengan cepat. "Meski ada anggapan salat tarawih dengan cepat ini belum tumakninah, tetapi kami menyakini tidak ada perbedaan salat terawih yang dilaksanakan ini dengan di tempat lain," ungkap Dliya'uddin.
Dia mengaku, mendapatkan dukungan dari ulama-ulama yang lain untuk tetap menjaga tradisi salat tarawih dengan cepat, karena memang tidak mengurangi syarat dan rukun salat. Hal inilah yang membuat tradisi tersebut, terus berlangsung hingga lebih dari satu abad.
Baca juga: Karomah Sunan Gunung Jati Bikin Pasukan Pajajaran Mendadak Lumpuh hingga Berbondong-bondong Memeluk Islam
Salah seorang jemaah salat tarawih yang dilaksanakan dengan cepat, Arif mengaku memilih salat tarawih di Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, karena kecepatanya membuatnya tidak sampai melamun saat salat.
"Salat tarawih tetap dapat saya ikuti di tengah kesibukan bekerja. Selain itu saya jadi lebih khusyuk, karena tidak sampai melamun. Terkait syarat dan rukun salat tarawih dengan cepat tersebut, dinilainya tidak berbeda dengan masjid lainnya," ungkapnya.

Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam, memiliki lebih dari 1.500 santri laki-laki dan perempuan. Para santri berasal dari warga sekitar, serta banyak yang datang dari Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Mereka datang untuk belajar mengaji salafiyah atau mengaji kitab kuning.
(eyt)
Lihat Juga :