Siasat Licik Sultan Agung, Gunakan Wabah Kolera untuk Habisi Jenderal VOC
Sabtu, 25 Februari 2023 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Awalnya Coen ingin menggunakan nama Nieuw Hoorn seperti kota kelahirannya, tetapi usul itu ditolak pimpinan VOC di Belanda. Dipilih nama Batavia untuk menghormati Suku Batavia yang dianggap sebagai leluhur bangsa Belanda dan digunakan sampai 1942.
Diceritakan, setelah penyerangan pertama pada Oktober 1628, Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya pada 1629. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur berangkat pada Mei 1629, sedangkan pasukan kedua dipimpin Adipati Juminah berangkat Juni 1629. Total semua 14.000 orang prajurit.
Kegagalan serangan pada 1628 diantisipasi dengan cara mendirikan lumbung-lumbung beras tersembunyi di Karawang dan Cirebon. VOC yang menggunakan mata-mata, Tumenggung Endranata, berhasil menemukan dan memusnahkan semua lumbung beras tersebut.
Pasukan Mataram yang kurang perbekalan, ditambah wabah penyakit malaria dan kolera yang melanda, kembali mengalami kekalahan. Namun, pasukan Sultan Agung berhasil membendung dan mengotori Sungai Ciliwung, yang mengakibatkan timbulnya wabah penyakit kolera melanda Batavia.
Meski Mataram gagal menaklukkan Batavia, tapi JP Coen tewas pada 20 atau 21 Desember 1629, beberapa hari setelah penyerangan itu. Gubernur Jenderal VOC itu meninggal akibat menjadi korban wabah kolera.
Jasad Coen dimakamkan di Stadhius (kini Museum Sejarah Jakarta) lalu dipindahkan ke de Oude Hollandsche Kerk (kini Museum Wayang). Namun, beberapa sejarahwan meragukan jasad Coen terdapat di tempat tersebut.
Namun, ada versi lain yang menyebutkan JP Coen berhasil diculik oleh laskar Mataram di tengah berkecamuknya pertempuran. Kemudian tubuh JP Coen dipotong-potong menjadi beberapa bagian.
Diceritakan, setelah penyerangan pertama pada Oktober 1628, Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya pada 1629. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur berangkat pada Mei 1629, sedangkan pasukan kedua dipimpin Adipati Juminah berangkat Juni 1629. Total semua 14.000 orang prajurit.
Kegagalan serangan pada 1628 diantisipasi dengan cara mendirikan lumbung-lumbung beras tersembunyi di Karawang dan Cirebon. VOC yang menggunakan mata-mata, Tumenggung Endranata, berhasil menemukan dan memusnahkan semua lumbung beras tersebut.
Pasukan Mataram yang kurang perbekalan, ditambah wabah penyakit malaria dan kolera yang melanda, kembali mengalami kekalahan. Namun, pasukan Sultan Agung berhasil membendung dan mengotori Sungai Ciliwung, yang mengakibatkan timbulnya wabah penyakit kolera melanda Batavia.
Meski Mataram gagal menaklukkan Batavia, tapi JP Coen tewas pada 20 atau 21 Desember 1629, beberapa hari setelah penyerangan itu. Gubernur Jenderal VOC itu meninggal akibat menjadi korban wabah kolera.
Jasad Coen dimakamkan di Stadhius (kini Museum Sejarah Jakarta) lalu dipindahkan ke de Oude Hollandsche Kerk (kini Museum Wayang). Namun, beberapa sejarahwan meragukan jasad Coen terdapat di tempat tersebut.
Namun, ada versi lain yang menyebutkan JP Coen berhasil diculik oleh laskar Mataram di tengah berkecamuknya pertempuran. Kemudian tubuh JP Coen dipotong-potong menjadi beberapa bagian.
Lihat Juga :