Defisit Neraca Perdagangan Jatim Menurun Tajam, Ini Penyebabnya
Kamis, 16 Juli 2020 - 10:42 WIB
loading...
A
A
A
"Sedangkan pada sektor migas mengalami defisit sebesar USD 94,76 juta," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Satriyo Wibowo dalam rilisnya, Kamis (16/7/2020).
(Baca juga: Risma Menangis Histeris Saat Pemakaman Kepala DP5A Surabaya )
Secara kumulatif Januari - Juni 2020, komoditas bahan bakar motor, tanpa timbal dari RON lainnya tidak dicampur, menjadi komoditas impor yang dominan dengan kontribusi 5,61 persen atau setara USD562,89 juta. Disusul komoditas hasil dari ekstraksi minyak kacang kedelai lainnya dengan kontribusi 4,26 persen atau setara USD426,92 juta. Berikutnya adalah komoditas kondensat dengan kontribusi 3,80 persen atau setara USD381,14 juta.
Sedangkan untuk ekspor, selama semester I 2020 emas dalam bentuk bongkah, ingot atau batang tuangan yang berkontribusi 11,94 persen atau setara USD1,15 miliar. Disusul komoditas tembaga dimurnikan berupa katoda dan bagian dari katoda dengan kontribusi 6,30 persen atau sebesar USD 607,45 juta. Peringkat ketiga adalah komoditas sisa dan skrap dari logam mulia lainnya dengan peranan sebesar 5,19 persen atau dengan nilai sebesar USD 500,69 juta.
(Baca juga: Risma Menangis Histeris Saat Pemakaman Kepala DP5A Surabaya )
Secara kumulatif Januari - Juni 2020, komoditas bahan bakar motor, tanpa timbal dari RON lainnya tidak dicampur, menjadi komoditas impor yang dominan dengan kontribusi 5,61 persen atau setara USD562,89 juta. Disusul komoditas hasil dari ekstraksi minyak kacang kedelai lainnya dengan kontribusi 4,26 persen atau setara USD426,92 juta. Berikutnya adalah komoditas kondensat dengan kontribusi 3,80 persen atau setara USD381,14 juta.
Sedangkan untuk ekspor, selama semester I 2020 emas dalam bentuk bongkah, ingot atau batang tuangan yang berkontribusi 11,94 persen atau setara USD1,15 miliar. Disusul komoditas tembaga dimurnikan berupa katoda dan bagian dari katoda dengan kontribusi 6,30 persen atau sebesar USD 607,45 juta. Peringkat ketiga adalah komoditas sisa dan skrap dari logam mulia lainnya dengan peranan sebesar 5,19 persen atau dengan nilai sebesar USD 500,69 juta.
(msd)
Lihat Juga :