Megah! Begini Penampakan Istana Majapahit di Trowulan Hasil Artificial Intelligence
Sabtu, 18 Februari 2023 - 21:25 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Legiun Mangkunegaran, Unit Pasukan Khusus yang Mampu Tandingi Militer Eropa
Menjelang akhir hayatnya, Pastor Mattiuzzi sempat mendatangi Biata Santo Antonius di Padua, dan bertemu dengan temannya, William de Solona. Kepada temannya tersebut, dia meminta untuk membuatkan catatan tentang kisah-kisahnya selama berada di Jawa.
Salah satu yang dikisahkan, adalah ketakjuban Pastor Mattiuzzi kepada Raja Jawa yang memiliki istana besar dan mewah. Istana tersebut memiliki tangga lebar dan megah, anak tangganya berlapiskan emas dan perak. Seluruh dinding dilapisi emas tempa, dan terdapat gambar-gambar kesatria yang ukir dalam lapisan emas.
Setiap kesatria di dalam Istana Majapahit, juga disebut oleh Pastor Mattiuzzi menggunakan mahkota emas yang berhias beragam batu mulia. Atap istana terbuat dari emas murni, dan dindingnya dilapisi lempengan emas serta perak.
![Megah! Begini Penampakan Istana Majapahit di Trowulan Hasil Artificial Intelligence]()
Kunjungan Pastor Mattiuzzi ke wilayah Majapahit, dilakukan sekitar tahun 1321-1322 Masehi. Pada masa itu, Majapahit berada di bawah pemerintahan Raja Jayanegara, yang merupakan putera dari Raden Wijaya.
Kehadiran orang Eropa ke Istana Majapahit, juga disebut oleh Riboet Darmosoetopo dalam tulisannya yang berjudul "Sejarah Perkembangan Majapahit", yang termuat dalam buku "700 Tahun Majapahit, Suatu Bunga Rampai".
Riboet Darmosoetopo menyebut dalam tulisannya, Gubernur Portugis di Malaka, Rui de Brito pada tahun 1514 Masehi menyebutkan ada dua raja "Kafir" yaitu raja Sunda, dan raja Jawa. Hal yang sama juga dituliskan oleh penulis Italia, Barbosa, yang menyebut raja "kafir" di pedalaman Jawa, pada tahun 1518 Masehi.
Baca juga: Berdarah Kopassus, Brigjen TNI JO Sembiring Ditunjuk Pimpin Pembebasan Pilot Susi Air
Sementara pada tahun 1522 Masehi, seorang ahli Italia lainnya, Antonio Pigafeta menyebutkan bahwa penguasa di Majapahit, adalah Pati Unus. Tulisan inilah yang mengisyaratkan bahwa kala itu Majapahit sudah masuk dalam kekuasaan kerajaan Demak.
Penakhlukan Majapahit oleh Demak, tak terlalu gamblang diceritakan dalam Serat Kanda, dan Serat Darmogandul. Riboet Darmosoetopo menduga, kematian Bhre Kertabhumi pada tahun 1478 masehi akibat serangan Dyah Ranawijaya, dijadikan sengkalan sirna ilang kertaning bumi dalam Babad Tanah Jawi.
Sementara, Slamet Muljana dalam bukunya yang berjudul "Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit", menyebutkan Kerajaan Majapahit memiliki ibu kota yang luas, lengkap dengan istananya. Beberapa bangunan beridiri megah, mulai dari alun-alun keraton hingga balai-balai yang menjadi bagian dari kompleks Istana Majapahit. Terdapat tembok batu, yang sekaligus menjadi benteng bagi keraton Majapahit.
Menjelang akhir hayatnya, Pastor Mattiuzzi sempat mendatangi Biata Santo Antonius di Padua, dan bertemu dengan temannya, William de Solona. Kepada temannya tersebut, dia meminta untuk membuatkan catatan tentang kisah-kisahnya selama berada di Jawa.
Salah satu yang dikisahkan, adalah ketakjuban Pastor Mattiuzzi kepada Raja Jawa yang memiliki istana besar dan mewah. Istana tersebut memiliki tangga lebar dan megah, anak tangganya berlapiskan emas dan perak. Seluruh dinding dilapisi emas tempa, dan terdapat gambar-gambar kesatria yang ukir dalam lapisan emas.
Setiap kesatria di dalam Istana Majapahit, juga disebut oleh Pastor Mattiuzzi menggunakan mahkota emas yang berhias beragam batu mulia. Atap istana terbuat dari emas murni, dan dindingnya dilapisi lempengan emas serta perak.

Kunjungan Pastor Mattiuzzi ke wilayah Majapahit, dilakukan sekitar tahun 1321-1322 Masehi. Pada masa itu, Majapahit berada di bawah pemerintahan Raja Jayanegara, yang merupakan putera dari Raden Wijaya.
Kehadiran orang Eropa ke Istana Majapahit, juga disebut oleh Riboet Darmosoetopo dalam tulisannya yang berjudul "Sejarah Perkembangan Majapahit", yang termuat dalam buku "700 Tahun Majapahit, Suatu Bunga Rampai".
Riboet Darmosoetopo menyebut dalam tulisannya, Gubernur Portugis di Malaka, Rui de Brito pada tahun 1514 Masehi menyebutkan ada dua raja "Kafir" yaitu raja Sunda, dan raja Jawa. Hal yang sama juga dituliskan oleh penulis Italia, Barbosa, yang menyebut raja "kafir" di pedalaman Jawa, pada tahun 1518 Masehi.
Baca juga: Berdarah Kopassus, Brigjen TNI JO Sembiring Ditunjuk Pimpin Pembebasan Pilot Susi Air
Sementara pada tahun 1522 Masehi, seorang ahli Italia lainnya, Antonio Pigafeta menyebutkan bahwa penguasa di Majapahit, adalah Pati Unus. Tulisan inilah yang mengisyaratkan bahwa kala itu Majapahit sudah masuk dalam kekuasaan kerajaan Demak.
Penakhlukan Majapahit oleh Demak, tak terlalu gamblang diceritakan dalam Serat Kanda, dan Serat Darmogandul. Riboet Darmosoetopo menduga, kematian Bhre Kertabhumi pada tahun 1478 masehi akibat serangan Dyah Ranawijaya, dijadikan sengkalan sirna ilang kertaning bumi dalam Babad Tanah Jawi.
Sementara, Slamet Muljana dalam bukunya yang berjudul "Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit", menyebutkan Kerajaan Majapahit memiliki ibu kota yang luas, lengkap dengan istananya. Beberapa bangunan beridiri megah, mulai dari alun-alun keraton hingga balai-balai yang menjadi bagian dari kompleks Istana Majapahit. Terdapat tembok batu, yang sekaligus menjadi benteng bagi keraton Majapahit.

Lihat Juga :