Raja Jayabaya, Penguasa Kediri Keturunan Airlangga yang Ramalkan Kehancuran Dunia
Senin, 09 Januari 2023 - 05:34 WIB
Dalam buku " Ramalan Jayabaya, Indonesia Masa Lampau, Masa Kini, dan Masa Depan" karangan Suwidi Tono disebutkan gambaran ciri-ciri yang menandai masa dimana 'Ratu Adil' tersebut akan segera tiba.
Datangnya sang Ratu Adil menurut ramalan Jayabaya yakni ditandai gunung-gunung yang akan meletus, bumi berguncang, laut dan sungai akan meluap. Sosok Ratu Adil yang dimaksud adalah Satrio Piningit.
Ratu Adil akan muncul di masa penuh penderitaan, masa penuh kesewenang-wenangan, masa ketidakadilan, orang-orang licik akan berkuasa dan yang baik akan tertindas. Setelah masa yang paling berat itu, diramalkan akan datang zaman baru, zaman penuh kemegahan dan kemuliaan, zaman keemasan bagi Nusantara.
Ratu Adil (Satria Piningit) merupakan mitologi yang mengatakan bahwa akan datang seorang pemimpin yang akan menjadi penyelamat, ia akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Baca juga: Miris! Kombatan GAM Ini Harus Hidup di Gubuk dan Dibelenggu Kemiskinan
Kata kunci Ramalan Jayabaya diyakini adalah wolak-walik ing zaman (perubahan zaman). Hal itu menggambarkan kefanaan dalam kehidupan di dunia serta keniscaraan tentang pembalasan yang setimpal.
Dalam buku Ramalan Jayabaya (Bagian Akhir) Indonesia Masa Lampau, Masa Kini, dan Masa Depan, disebutkan Raja Jayabaya memerintahkan dua pujangga, yaitu Mpu Sedah dan Mpu Panuluh untuk menyadur dan menciptakan karya sastra. Karya tersebut kemudian dikembangkan dan disebarluaskan kepada rakyat melalui tembang berbahasa Jawa.
Kesaktian Raja Jayabaya, membuat banyak orang percaya penguasa Kediri tersebut tidak mati, melainkan moksa. Pamuksan Sri Aji Jayabaya atau Raja Jayabaya, dipercaya berada di Desa Mamenang atau Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Hingga kini, tempat tersebut masih dikeramatkan.
Banyak orang datang untuk ngalab berkah di Pamuksan Sri Aji Jayabaya tersebut. Tidak terkecuali Soekarno atau Bung Karno. Di masa bangsa Indonesia masih terjajah, Bung Karno dikabarkan pernah secara khusus mengunjungi Kediri, dalam rangka ngalab berkah, dengan menziarahi petilasan Raja Jayabaya.
"Sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, presiden pertama negara baru itu, Soekarno, dikabarkan berziarah tiga kali ke Pamuksan Sri Aji Jayabaya," tulis George Quinn dalam buku Wali Berandal Tanah Jawa.
Baca juga: Kisah Panembahan Senopati 3 Hari 3 Malam Bercinta dengan Nyi Roro Kidul di Laut Selatan
Sri Aji Jayabaya yang memerintah Kerajaan Panjalu selama 24 tahun (1135-1159) tersohor sebagai raja adil dan bijaksana. Di tangan Jayabaya hukum benar-benar ditegakkan.
Dalam Prahara Bumi Jawa Sejarah Bencana dan Jatuh Bangunnya Penguasa Jawa, Otto Sukatno CR menuliskan, saat itu tidak ada orang yang dikurung sehingga penjara tidak diperlukan. Yang berlaku saat itu hanya hukuman denda. Mereka yang dinyatakan bersalah harus membayar denda dengan besaran yang ditentukan.
Datangnya sang Ratu Adil menurut ramalan Jayabaya yakni ditandai gunung-gunung yang akan meletus, bumi berguncang, laut dan sungai akan meluap. Sosok Ratu Adil yang dimaksud adalah Satrio Piningit.
Ratu Adil akan muncul di masa penuh penderitaan, masa penuh kesewenang-wenangan, masa ketidakadilan, orang-orang licik akan berkuasa dan yang baik akan tertindas. Setelah masa yang paling berat itu, diramalkan akan datang zaman baru, zaman penuh kemegahan dan kemuliaan, zaman keemasan bagi Nusantara.
Ratu Adil (Satria Piningit) merupakan mitologi yang mengatakan bahwa akan datang seorang pemimpin yang akan menjadi penyelamat, ia akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Baca juga: Miris! Kombatan GAM Ini Harus Hidup di Gubuk dan Dibelenggu Kemiskinan
Kata kunci Ramalan Jayabaya diyakini adalah wolak-walik ing zaman (perubahan zaman). Hal itu menggambarkan kefanaan dalam kehidupan di dunia serta keniscaraan tentang pembalasan yang setimpal.
Dalam buku Ramalan Jayabaya (Bagian Akhir) Indonesia Masa Lampau, Masa Kini, dan Masa Depan, disebutkan Raja Jayabaya memerintahkan dua pujangga, yaitu Mpu Sedah dan Mpu Panuluh untuk menyadur dan menciptakan karya sastra. Karya tersebut kemudian dikembangkan dan disebarluaskan kepada rakyat melalui tembang berbahasa Jawa.
Kesaktian Raja Jayabaya, membuat banyak orang percaya penguasa Kediri tersebut tidak mati, melainkan moksa. Pamuksan Sri Aji Jayabaya atau Raja Jayabaya, dipercaya berada di Desa Mamenang atau Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Hingga kini, tempat tersebut masih dikeramatkan.
Banyak orang datang untuk ngalab berkah di Pamuksan Sri Aji Jayabaya tersebut. Tidak terkecuali Soekarno atau Bung Karno. Di masa bangsa Indonesia masih terjajah, Bung Karno dikabarkan pernah secara khusus mengunjungi Kediri, dalam rangka ngalab berkah, dengan menziarahi petilasan Raja Jayabaya.
"Sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, presiden pertama negara baru itu, Soekarno, dikabarkan berziarah tiga kali ke Pamuksan Sri Aji Jayabaya," tulis George Quinn dalam buku Wali Berandal Tanah Jawa.
Baca juga: Kisah Panembahan Senopati 3 Hari 3 Malam Bercinta dengan Nyi Roro Kidul di Laut Selatan
Sri Aji Jayabaya yang memerintah Kerajaan Panjalu selama 24 tahun (1135-1159) tersohor sebagai raja adil dan bijaksana. Di tangan Jayabaya hukum benar-benar ditegakkan.
Dalam Prahara Bumi Jawa Sejarah Bencana dan Jatuh Bangunnya Penguasa Jawa, Otto Sukatno CR menuliskan, saat itu tidak ada orang yang dikurung sehingga penjara tidak diperlukan. Yang berlaku saat itu hanya hukuman denda. Mereka yang dinyatakan bersalah harus membayar denda dengan besaran yang ditentukan.
Lihat Juga :