Biaya Rapid Test Jadi Beban Tambahan bagi Mahasiswa Saat Pandemi

Selasa, 23 Juni 2020 - 13:58 WIB
Mahalnya biaya rapid tes juga dikeluhkan warga Sleman, Aan Wibowo, 45. Ia mengatakan karena ada keperluan pekerjaan ia harus ke Jakarta. Saat ke Jakarta sudah membawa hasil rapid tes non reaktif. Namun saat akan kembali ke Yogyakarta surat RDT itu sudah tidak berlaku lagi, karena hanya berlaku tiga hari.

Sehingga untuk keperluan administrasi berpergian harus RDT lagi di bandara. “Saya ke Jakarta Jumat, pulang ke Yogya Senin. Oleh petugas bandara diminta RDT lagi, karena surat RDT sudah tidak berlaku, sebab hanya berlaku tiga hari. Untuk RDT itu biayanya Rp300 ribu lebih,” akunya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan untuk biaya RDT saat ini masih mahal. Untuk itu bekerjasama dengan UGM, untuk penyediaan alat RDT yang biayanya terjangkau. (Baca: Cerita Warga Semarang Rogoh Rp1,3 Juta Untuk Rapid Test )

Dimana alat RDT buatan UGM, cukup muruh, yaitu antara Rp25.000-Rp30.000. Sebagai tahap awal alat RDT ini diujicobakan untuk RDT bagi tenaga kesehatan di Puskesmas se-Sleman. “Tahap awal ini, kami mendapatkan bantuan 4000 RDT dari UGM. Namun tahap ini baru untuk tracing. Untuk surat keterangan bebas COVID-19 tetap dari instansi berwenang,” paparnya.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!