Vaksin Booster Sinopharm Kantongi EUA dari BPOM
Sabtu, 12 Februari 2022 - 07:40 WIB
Sementara itu, frekuensi, jenis, dan keparahan reaksi sampingan atau kejadian yang tidak diharapkan (KTD)setelah pemberianbooster lebih rendah dibandingkan saat pemberian dosis primer.
Adapun KTD yang sering terjadi merupakan reaksi lokal seperti nyeri di tempat suntikan, pembengkakan, dan kemerahan serta reaksi sistemik seperti sakit kepala, kelelahan, dan nyeri otot, dengan tingkat keparahan grade 1-2.
Dilihat dari aspek Imunogenisitas, kata dia, peningkatan respon imun humoral untuk parameter pengukuran antibodi netralisasi dan anti IgG masing-masing sebesar 8,4 kali dan 8 kali lipat dibandingkan sebelum pemberianbooster.
"Sesuai dengan hasil evaluasi yang telah dilakukan oleh BPOM, respon imun setelah pemberianboosterini lebih tinggi dibandingkan respons imun yang dihasilkan pada saat vaksinasi primer," ucapnya.
Adapun KTD yang sering terjadi merupakan reaksi lokal seperti nyeri di tempat suntikan, pembengkakan, dan kemerahan serta reaksi sistemik seperti sakit kepala, kelelahan, dan nyeri otot, dengan tingkat keparahan grade 1-2.
Dilihat dari aspek Imunogenisitas, kata dia, peningkatan respon imun humoral untuk parameter pengukuran antibodi netralisasi dan anti IgG masing-masing sebesar 8,4 kali dan 8 kali lipat dibandingkan sebelum pemberianbooster.
"Sesuai dengan hasil evaluasi yang telah dilakukan oleh BPOM, respon imun setelah pemberianboosterini lebih tinggi dibandingkan respons imun yang dihasilkan pada saat vaksinasi primer," ucapnya.
(ams)
Lihat Juga :