Kisah Putri Campa dan Penyebar Islam di Kerajaan Majapahit
Selasa, 04 Januari 2022 - 05:00 WIB
Sebelum masuk tiba di ibu kota Majapahit, rombongan Imigran singgah di Palembang. Saat itu Palembang dipimpin Adipati Arya Damar. Persinggahan mereka membuat Arya Jin Bun, putra Raja Brawijaya V dari selir asal China, menganut Islam.
Arya Jin Bun kala itu diasuh oleh Arya Damar. Saat memeluk Islam, dia berganti nama menjadi Raden Patah.
Raden Patah yang kala itu berusia sekitar 30 tahun, mengantar rombongan Imigran ke ibu kota Majapahit. Namun, Makdum Brahim wafat saat sampai di Tuban. Sampai di ibu kota Majapahit yang saat itu berada di Daha atau Kediri, Raden Patah membawa rombongan menghadap ke Prabu Dyah Ranawijaya.
Kedatangan imigran muslim asal Campa itu membuat Prabu Ranawijaya menggagas pendirian masjid. Dia berharap daerah pesisir seperti Surabaya, Gresik dan Tuban menjadi lebih ramai dikunjungi pedagang muslim lainnya. Sehingga memberi keuntungan ekonomi bagi Majapahit.
Oleh Raja Ranawijaya, Raden Rahmat ditempatkan di Surabaya, sedangkan Raden Santri Ali ditempatkan di Gresik. Raden Rahmat lantas ditunjuk menjadi imam masjid di Ampel Denta sehingga dijuluki Sunan Ampel.
Dia menikah dengan Ni Ageng Manila, putri adipati Tuban Arya Teja. Dia lalu diangkat menjadi Adipati Surabaya menggantikan kakek istrinya, Arya Lembu Sora yang meninggal.
Dikisahkan, Raden Rahmat meminta Raden Patah membuat masjid besar di Demak. Raden Patah melaksanakan perintah tersebut tahun 1479 masehi atau 1401 saka. Saat itu Raden Patah menjabat sebagai pecat tonda di Bintoro. Dia menikahi adik kandung Raden Rahmat, Ni Ageng Maloka.
Arya Jin Bun kala itu diasuh oleh Arya Damar. Saat memeluk Islam, dia berganti nama menjadi Raden Patah.
Raden Patah yang kala itu berusia sekitar 30 tahun, mengantar rombongan Imigran ke ibu kota Majapahit. Namun, Makdum Brahim wafat saat sampai di Tuban. Sampai di ibu kota Majapahit yang saat itu berada di Daha atau Kediri, Raden Patah membawa rombongan menghadap ke Prabu Dyah Ranawijaya.
Kedatangan imigran muslim asal Campa itu membuat Prabu Ranawijaya menggagas pendirian masjid. Dia berharap daerah pesisir seperti Surabaya, Gresik dan Tuban menjadi lebih ramai dikunjungi pedagang muslim lainnya. Sehingga memberi keuntungan ekonomi bagi Majapahit.
Oleh Raja Ranawijaya, Raden Rahmat ditempatkan di Surabaya, sedangkan Raden Santri Ali ditempatkan di Gresik. Raden Rahmat lantas ditunjuk menjadi imam masjid di Ampel Denta sehingga dijuluki Sunan Ampel.
Dia menikah dengan Ni Ageng Manila, putri adipati Tuban Arya Teja. Dia lalu diangkat menjadi Adipati Surabaya menggantikan kakek istrinya, Arya Lembu Sora yang meninggal.
Dikisahkan, Raden Rahmat meminta Raden Patah membuat masjid besar di Demak. Raden Patah melaksanakan perintah tersebut tahun 1479 masehi atau 1401 saka. Saat itu Raden Patah menjabat sebagai pecat tonda di Bintoro. Dia menikahi adik kandung Raden Rahmat, Ni Ageng Maloka.
Lihat Juga :