Kisah Pohon Sukun, Sukarno dan Butir-Butir Pancasila
Minggu, 07 Juni 2020 - 05:06 WIB
Sebagaimana lumrah, tokoh yang dibuang ke tempat terpencil, akses untuk berkoresponden menjadi fakta tak bisa dipungkiri. Namun, di sinilah ketokohan itu menguat. Ia ditempa menjadi tokoh yang makin tegar di alam yang serba sulit. Sang tokoh, dengan ini, memiliki banyak waktu untuk membaca dan lebih banyak berpikir daripada sebelumnya.
Dia mulai mempelajari lebih jauh soal agama Islam, hingga belajar pluralisme dengan bergaul bersama pastor di Ende. Ia mengalami keseharian masyarakat Ende yang sangat harmonis dalam berketuhanan dan bermasyarakat. Selain itu, Sukarno juga mulai melukis dan menulis naskah pementasan drama. Dia juga berkebun. Di sekitar lokasi pengasingannya, terdapat sebuah taman, tempat dia Bung Karno banyak merenung.
Di taman tersebut, terdapat pohon sukun yang rindang bercabang lima. Dari sinilah Sukarno merancang lima bulir yang menjadi dasar Pancasila. Melalui perenungan yang mendalam di taman ini dan di bawah rindang Pohon Sukun, Bung Karno mendapat ilham bahwa negara ini harus memiliki ideologi yang merangkum berbagai aspek kebangsaan.
Pada tahun 1954, Bung Karno meresmikan "Rumah Museum" di taman tempat ia merenung. Di atas prasasti tertulis, "Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila". (Baca Juga: Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang )
Saat ini, kawasan tman Soekarno merenung dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kreasi seni dan budaya, serta diskusi. Selain menjadi lokasi lahirnya Pancasila, taman juga menjadi salah satu objek wisata sejarah yang tidak boleh dilewatkan.
Dia mulai mempelajari lebih jauh soal agama Islam, hingga belajar pluralisme dengan bergaul bersama pastor di Ende. Ia mengalami keseharian masyarakat Ende yang sangat harmonis dalam berketuhanan dan bermasyarakat. Selain itu, Sukarno juga mulai melukis dan menulis naskah pementasan drama. Dia juga berkebun. Di sekitar lokasi pengasingannya, terdapat sebuah taman, tempat dia Bung Karno banyak merenung.
Di taman tersebut, terdapat pohon sukun yang rindang bercabang lima. Dari sinilah Sukarno merancang lima bulir yang menjadi dasar Pancasila. Melalui perenungan yang mendalam di taman ini dan di bawah rindang Pohon Sukun, Bung Karno mendapat ilham bahwa negara ini harus memiliki ideologi yang merangkum berbagai aspek kebangsaan.
Pada tahun 1954, Bung Karno meresmikan "Rumah Museum" di taman tempat ia merenung. Di atas prasasti tertulis, "Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila". (Baca Juga: Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang )
Saat ini, kawasan tman Soekarno merenung dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kreasi seni dan budaya, serta diskusi. Selain menjadi lokasi lahirnya Pancasila, taman juga menjadi salah satu objek wisata sejarah yang tidak boleh dilewatkan.
Lihat Juga :