Kisah Pohon Sukun, Sukarno dan Butir-Butir Pancasila

Minggu, 07 Juni 2020 - 05:06 WIB
Patung Sukarno yang tengah duduk menghadap laut karya perupa Hanafi ini diresmikan Wapres Boediono tahun 2013. Foto istimewa
Cerita tentang ideologi Pancasila dengan lima sila di dalamnya tidak lepas dari cerita tentang Sukarno. Kisah tentang Bung Karno yang dibuang ke Flores, tepatnya di Ende -yang sekarang menjadi salah sati kabupaten di Flores NusaTenggara Timur (NTT)- juga selalu dikaitkan dengan Pohon Sukun.

Menurut catatan sejarah, pada masa perjuangan melawan penjajahan Belanda, Sukarno kerap kali keluar masuk penjara. Setelah dipenjara di tempat tahanan Sukamiskin pada 1934-1939, Bung Karno masih dianggap sebagai figur berbahaya bagi kepentingan kolonial Belanda. Rasa ketakutan inilah yang mendorong penjajah untuk membuang Sukarno ke Flores, tepatnya Ende, sebuah tempat yang jauh dan terpencil di Indonesia bagian timur.



Sang Proklamator itu menjalani masa tahanan di Ende dalam waktu yang relatif lama, yakni selama empat tahun, dari 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. Saking jauhnya dari Jawa menuju Flores, waktu yang ditempuh Bung Karno -menurut catatan sejarah- mencapai 8 hari perjalanan dengan menggunakan kapal laut. (Baca Juga: Danau Rayo, Legenda Pemuda Buruk Rupa Sakti Mandraguna )

Dalam pengasingan ini, Sukarno didampingi istri tercinta Inggit Garnasih, anak angkat Ratna Djuami, Ibu Amsi mertuanya. Mereka menempati rumah sederhana milik Abdullah Ambuwawu di kawasan Ambugaga, kampung kecil yang terdiri dari pondok-pondok beratap ilalang. Di sinilah Sukarno dan keluarga menjalani kehidupan bersahaja.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!