DNA Mirip Manusia, Orangutan dan Kera Besar Rawan Terinfeksi Virus Corona

Rabu, 22 April 2020 - 07:48 WIB
Fokus dunia saat ini memang pada penanganan pandemic COVID-19 yang telah tersebar di 184 negara dengan total lebih dari 2 juta orang yang terinfeksi dan menelan korban lebih dari 160 ribu jiwa (data per tanggal 20 April 2020). Tidak heran jika makhluk lain di bumi sedikit luput dari perhatian. Faktanya, meskipun habitat Orangutan utamanya adalah di hutan, namun seiring dengan perusakan hutan yang massif yang menyebabkan banyak kasus orangutan turun ke permukaan dan bersinggungan dengan pemukiman warga.

Dilansir dari BBC, Peneliti dari Universitas John Moores, Prof Serge Wich menyatakan bahwa dengan menghentikan sementara pariwisata serta proyek-proyek infrastruktur yang bersinggungan dengan habitat orangutan, kita dapat mengurangi kontak antara manusia dan orangutan yang berpotensi dapat menyebabkan penyebaran virus.

"Kami tidak tahu apa efek virusnya pada mereka dan itu berarti kita harus mengambil langkah dengan kehati-hatian dan mengurangi risiko mereka terkena virus. Itu berarti menghentikan pariwisata yang sudah dilakukan di beberapa Negara, mengurangi penelitian, sangat berhati-hati dengan program reintroduksi, tetapi ini juga berpotensi menghentikan infrastruktur dan proyek ekstraktif di habitat kera besar yang membawa orang lebih dekat dengan kera besar dan dengan demikian berpotensi menyebarkan virus ini kepada mereka,” ujar Serge.

Ancaman tersebut sangat membuat para ahli khawatir. Pasalnya, ketiga spesies orangutan yang diklasifikasikan sebagai spesies terancam punah ini akan terancam menuju kepunahan, terutama satu species yang baru diidentifikasi di tahun 2017, yakni orangutan Tapanuli yang diprediksi jumlahnya kurang dari 800 individu. Di tengah ancaman aktivitas manusia seperti penebangan liar hingga proyek pembangunan PLTA, kini Orangutan Tapanuli dihadapkan pada ancaman penularan COVID-19.

“Orangutan adalah hewan yang sebagian hidupnya dihabiskan diatas pepohonan, risiko penularan pada mereka kemungkinannya kecil bila dibandingkan dengan kera besar lainnya, akan tetapi hal itu masih dipertimbangkan karena beberapa dari mereka turun ke permukaan dan bisa menjadi sangat dekat dengan para peneliti. Tentu saja, di tempat perlindungan kemungkinan penularan akan lebih tinggi dibandingkan di alam liar,” tambah Serge.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!