Hari Ketiga, BIN Gelar Rapid dan Swab Test Massal di Dua Zona Merah di Surabaya
Minggu, 31 Mei 2020 - 22:26 WIB
"Kegiatan ini dilaksanakan oleh BIN adalah kegiatan kemanusiaan yang dalam program memutus rantai penularan COVID-19 di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini BIN bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota," ucap Brigjen TNI M Syafei di lokasi rapid test massal di Terminal Manukan, Jalan Manukan, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (31/5/2020).
Syafei mengungkapkan, dalam rapid test massal ini, BIN menyiapkan 2.000 alat rapid test, yang masing-masing lokasi mendapat 1.000 alat rapid test. Dia berharap lewat rapid test ini, dapat menekan penularan COVID-19.
"Kemampuan alat dari BIN ini mampu melaksanakan test cepat dengan peralatan medis yang mendukung di dua titik. Untuk sementara cukup menampung terutama daerah zona merah untuk melaksanakan rapid test sehingga kapasitasnya kita perbanyak, sehari satu tempat bisa 1.000 orang, jadi 2 tempat bisa 2.000 orang," jelasnya.
"Karena Surabaya ini penyebaran COVID-nya 50% dari jumlah penderita COVID yang ada di Jatim. Sehingga pimpinan BIN melihat perlu Surabaya menjadi prioritas penanganan untuk memutus rantai COVID. Sehingga kita berharap Pemerintah Kota Surabaya dapat melokalisasi penderita COVID yang positif kemudian diisolasi dan ditangani kesehatan sehingga tidak menyebar ke seluruh wilayah," paparnya.
Sementara itu, Head of Medical Intelligence, Dr Sri Wulandari, salah satu dokter yang menangani rapid COVID-19 yang digelar BIN di Surabaya menyampaikan update hasil rapid test sementara sejak pukul 07.00 - 14.00 Wib.
Syafei mengungkapkan, dalam rapid test massal ini, BIN menyiapkan 2.000 alat rapid test, yang masing-masing lokasi mendapat 1.000 alat rapid test. Dia berharap lewat rapid test ini, dapat menekan penularan COVID-19.
"Kemampuan alat dari BIN ini mampu melaksanakan test cepat dengan peralatan medis yang mendukung di dua titik. Untuk sementara cukup menampung terutama daerah zona merah untuk melaksanakan rapid test sehingga kapasitasnya kita perbanyak, sehari satu tempat bisa 1.000 orang, jadi 2 tempat bisa 2.000 orang," jelasnya.
"Karena Surabaya ini penyebaran COVID-nya 50% dari jumlah penderita COVID yang ada di Jatim. Sehingga pimpinan BIN melihat perlu Surabaya menjadi prioritas penanganan untuk memutus rantai COVID. Sehingga kita berharap Pemerintah Kota Surabaya dapat melokalisasi penderita COVID yang positif kemudian diisolasi dan ditangani kesehatan sehingga tidak menyebar ke seluruh wilayah," paparnya.
Sementara itu, Head of Medical Intelligence, Dr Sri Wulandari, salah satu dokter yang menangani rapid COVID-19 yang digelar BIN di Surabaya menyampaikan update hasil rapid test sementara sejak pukul 07.00 - 14.00 Wib.
Lihat Juga :