Jabar Luncurkan Rintisan Usaha Petani Milenial Bidang Perkebunan
Rabu, 01 September 2021 - 08:03 WIB
"Pak Gubernur (Ridwan Kamil) sekarang menjawab dengan Petani Milenial, termasuk juga dengan program Santani (Santri Tani)," sebut Uu. Baca juga: Kunjungi Sulawesi Tengah, Menko Airlangga Lepas Ekspor Kakao Biji Sebagai Komoditas Andalan Provinsi
Uu berharap besar agar para peserta yang tergabung dalam program Petani Milenial mampu menguasai ilmu dan teori di bidang pertanian. Kemampuan tersebut, kata Uu, harus dimiliki untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian di Jabar.
"Karena pertanian kali ini berbeda dengan zaman dulu, kondisi alamnya beda. Kalau dulu gejebur (terjun) ke sawah, sekarang harus memiliki kemampuan, termasuk teknologi pertanian harus dikuasai," katanya.
Menurut Uu, peserta Petani Milenial pun harus mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perbankan, sampai offtaker. "Sekarang tidak ada kata Superman, perlu kekuatan yang lahir berdasarkan kolaborasi. Saya berharap pemuda ada yang berpihak dan mengerti soal pertanian," ucapnya.
Selain itu, Uu juga mendorong kepala daerah di Jabar untuk ikut serta meregenerasi SDM sektor pertanian. Sebab, jika kegiatan produksi pertanian hanya dilakukan oleh generasi tua, maka perlahan tapi pasti, jumlah petani akan semakin berkurang dari masa ke masa.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Jabar, Hendy Jatnika melaporkan, peserta program Petani Milenial di bidang perkebunan fokus pada sejumlah komoditas, seperti kopi, gula aren, vanili, pembenihan tanaman perkebunan, dan limbah kelapa.
Dalam proses seleksi, program Petani Milenial Bidang Perkebunan telah meloloskan 25 orang petani milenial dimana 15 orang petani milenial memilih jenis rintisan usaha pengolahan kopi, 4 orang merintis pengolahan gula aren, 2 orang komoditas vanili, 2 orang pembenihan tanaman perkebunan, serta 2 orang petani milenial lainnya memilih rintisan usaha pengolahan limbah kelapa.
Uu berharap besar agar para peserta yang tergabung dalam program Petani Milenial mampu menguasai ilmu dan teori di bidang pertanian. Kemampuan tersebut, kata Uu, harus dimiliki untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian di Jabar.
"Karena pertanian kali ini berbeda dengan zaman dulu, kondisi alamnya beda. Kalau dulu gejebur (terjun) ke sawah, sekarang harus memiliki kemampuan, termasuk teknologi pertanian harus dikuasai," katanya.
Menurut Uu, peserta Petani Milenial pun harus mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perbankan, sampai offtaker. "Sekarang tidak ada kata Superman, perlu kekuatan yang lahir berdasarkan kolaborasi. Saya berharap pemuda ada yang berpihak dan mengerti soal pertanian," ucapnya.
Selain itu, Uu juga mendorong kepala daerah di Jabar untuk ikut serta meregenerasi SDM sektor pertanian. Sebab, jika kegiatan produksi pertanian hanya dilakukan oleh generasi tua, maka perlahan tapi pasti, jumlah petani akan semakin berkurang dari masa ke masa.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Jabar, Hendy Jatnika melaporkan, peserta program Petani Milenial di bidang perkebunan fokus pada sejumlah komoditas, seperti kopi, gula aren, vanili, pembenihan tanaman perkebunan, dan limbah kelapa.
Dalam proses seleksi, program Petani Milenial Bidang Perkebunan telah meloloskan 25 orang petani milenial dimana 15 orang petani milenial memilih jenis rintisan usaha pengolahan kopi, 4 orang merintis pengolahan gula aren, 2 orang komoditas vanili, 2 orang pembenihan tanaman perkebunan, serta 2 orang petani milenial lainnya memilih rintisan usaha pengolahan limbah kelapa.
Lihat Juga :